Komputer Ngadat

Tampilan kalau lagi normal.

Kamu pernah mengalami gak, lagi asyik menulis dengan ide terus mengalir terus komputernya ngadat? Ya, itulah yang tengah aku rasakan. Sebal sih. Harusnya kalau mau ngadat, ya ingat waktu begitu. Biar aku bisa mempersiapkan hal terburuknya.

Melalui tulisan ini aku sedang menguatkan diri. Menguatkan keyakinan. Kalau aku tuh akan berusaha baik. Sebaik yang aku bisa. Biar tidak terlalu lebay menyikapi titik dinamika hidupku.

Lagi komputer-ku ngadat. Lebih tepatnya ngadat di saat sedang dibutuhkan. Pusing memikirkan kalau ngadat begini. Sebabnya, pasti minta jatah lagi biar makin glowing dan speed. Gak lihat kedaan banget!

Ya, gimana, namanya dia masih dibutuhkan. Jadi agar tidak lama lagi ngadat-nya harus dituruti inginnya atau mungkin---kalau ada rejeki jatuh di pusat---beli yang lebih lux lagi.  Kalau bisa loh ya, kalau enggak, ya sudah berdamai dengan yang ada.

Dua hari ini gak menulis rasanya seperti ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang begitu intim menyatu, sesuatu itu adalah gerak yang mendebarkan jiwa. Sebegitulah rasanya ditinggal yang melekat di jiwa lantas saat ia ingin pergi kita atasi bisa menyiapkan raga untuk ikhlas melepaskannya.

Begitpula beberapa hari ini, aku kehilangan ia yang memilih untuk melanjutkan mimpinya. Mimpi untuk menata hidup dan masa depannya.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya, tapi soal rindu yang begitu bergejolak ini memang jadi masalah sendiri. Aku tidak ingin menahan ia pergi tapi di saat yag sama ingin ia selalu ada di sisiku.

Simalakama banget, kan?

Jadinya, ya begitu. Memilih untuk menerima apa adanya rasa, atau memilih melepas sementara rasa yang bergejolak itu diberi pelarian lain yang melegakan jiwa.

Aku jadi berpikir, ditinggal sementara saja begini adanya, bagaimana kalau nasib hidupnya berubah dan tak ada kesempatan kami bersama lagi?

Gak tahu, ah. Gak mau berandai-andai. Sebab, kalau yang tergambar itu menyesakkan dada. Jadinya cengeng macam kerupuk tersiram air soto begitu. Bruzzz! Lunglai tak bertenaga lagi.

Tidak ada hubungannya sih antara rasa dengan menulis. Ini cuma refleksi yang aku pikir karena energi yang dikeluarkan sama poinnya. Karena menulis bagian kesenangannku, ia serasa menjadi penawar kalau lagi galau. Kalau lagi boring, atau kalau lagi berenang di lautan penuh cemas.

Aku percaya, tiap orang punya cara mengobati laranya dengan apa yang ia suka. Kalau kamu suka healing, maka berburu atau naik gunung bisa jadi alternatif. 

Kalau kamu suka shooping, maka berkunjung ke pusat perbelanjaan bisa jadi pilihan. 

Kalau kebetulan budget lagi kering, bisa dong scrooling di sosial media terkait promo-promo yang ada. Sedikitnya bisa mengubah mood.

Tentu saja masih banyak cara dan media untuk menyalurkan kebosanan. Kebetulan aku suka menulis maka media itu adalah kata-kata yang cocok. Tidak selalu harus meluangkan rasa, setidaknya ada ruang untukku menjadi lebih plong. 

Kalau kamu berbeda pilihan, tak masalah. Jalanin hidupmu sebagaimana yang kamu mau. Karena aku percaya, orang yang bisa menikmati hidupnya adalah orang yang selalu berdamai dengan apa yang ia alami. Wallahu alam. (**)

Pandeglang, 27 September 2026   23.35

Posting Komentar

0 Komentar