Di Balik Senyum Tersimpan Luka Menganga

ilustrasi perempuan yang tengah merenungi nasibnya. (AI)

Aku tahu rasamu tidak sedang baik, kan?

Ya, kamu yang diam-diam membaca tulisan ini dan mencoba menebak, tulisan ini arahnya ke mana.
Lebih tepatnya, diarahkan ke siapa? 
Apa benar ke aku atau orang lain yang kebetulan merasakan apa yang kamu rasakan?

Kalau kamu berpikir demikian, aku kasih kabar baik. Tulisan ini memang ditujukan ke kamu.

Ya, kamu yang hatinya tengah gundah. Jiwanya tengah goyah. Pikirannya tengah merayap ke mana-mana.

Tapi, kamu tutupi dengan senyum manis pada tiap orang. Tapi, kamu jaga dengan emot manis agar dikira kamu baik-baik saja. Satu kali dua, mungkin berpikir kamu baik. Tapi lama-lama kok bikin sesak, ya.

Kamu pun beralibi, mengungkapkan itu di media sosialmu. Kamu ungkapkan, tak lama kamu hapus lagi. Kamu tuliskan lagi, tapi kok merasa malu ya.

Kamu takut kalau orang terdekat kamu tahu rasamu, di saat yang sama kamu tertekan dengan masalah bertubi yang kamu pahami.

Kamu ingin mencari, siapa orang yang bisa memaklumi rasamu?

Ya, belum kamu temukan.
 
Sebenarnya aku tahu rasamu, tapi aku memilih diam. Aku memilih menjaga jarak, karena aku tahu, biar kamu mencari jalan sendiri untuk menemukan siap yang bakal memahami gundah mu.

Lagian, apa kepentingan diriku apa ingin tahu masalah orang? Masalahku saja sudah cukup bikin kepala pening. Mengurus masalah orang pastinya akan menambah tingkat pening tersebut.

Untuk itu, aku diam saja. 

Sebenarnya aku ingin sekali mengingatkan untuk bilang,

"Hey, jangan curhat di media sosialmu karena itu hanya akan menambahkan beban itu makin berat. Chat aja ke aku. Curahkan semua, nanti kita bisa diskusi baik nya seperti apa."

Lagi-lagi aku berpikir, aku ini siapa mau menanggung beban jiwa orang? Psikolog bukan. Psikoterapi juga bukan. Terus, Mamah Dedeh apalagi, jelas tak ada potongan nya banget.

Lagian lagi, aku laki-laki dan kamu perempuan. Sangat kontras perbedaannya. Oleh karenanya, daripada sibuk dengan segala penawaran semu itu, aku memilih merangkai kata saja. 

Berhenti mengalahkan diri sendiri

Jangan terus menyalahkan kesalahan selalu padamu, padahal sangat jelas muara konflik ini ada di dia bukan kamu. Mungkin kamu ingin menutupi semuanya agar terlihat baik-baik saja. 

Kamu berkorban rasa agar anak-anak tidak terkelupas rasa kasihnya. Lebih baik menderita daripada melihat mereka terluka.

Padahal di awal, salahnya bukan di kamu. Kalau pun di kamu, perbaiki saja. Tidak usah terlalu mencela keadaanmu. Cukupkan kesalahan agar tidak terulang lagi bukan sebaliknya.

Oleh karenanya, perbaiki sikapmu. Hargai dirimu. Hormati semua anggapan orang. Terima apa adanya saja.

Lepas atau Pertahankan

Dalam hidup kita ada saat kita bersikap tegas kepada diri kita. Kalau orang yang kamu sayangi sudah tak lagi sama lagi prinsipnya dan semua hal tentangnya yang kamu anggap kerap memicu perseteruan.

Hari esok masih panjang. Mimpi-mimpi masih bisa dilukiskan di dalam jadwal rutinan. Orang seperti mereka yang malam minggu.

Kamu Mungkin Terjatuh

Urusan jatuh dan terjatuh bagi orang dewasa itu biasa. Orang sekarang justeru berpikir sebaliknya. Seolah jatuh itu persoalan yang sangat berat. Hanya dirinya saja yang mengalaminya di dunia ini. Sungguh kebablasan, bukan.

Ketika kamu menghadapi ujian ini, maka sikapi dengan tangan terbuka. Selain kamu, ada 7 miliyar orang di dunia ini yang punya masalah sama. 

Tugas kamu bukan terus mau terpuruk tapi bangkit dai beban itu dengan pikiran yang lebih jernih lagi.

Dari semua pemaparan ini, apa yang akan kamu pertanyaan dan lakukan? (**)

Pandeglang, 28 September 2026 22.53


Posting Komentar

0 Komentar