Ia Telah Berpulang Ke Alam Sana

 

sumber: Alamtara Insitute

Adik saya memberi kabar, katanya ia telah meninggal. Seseorang yang pernah ada di hati saya, dulu. Hari ini tujuh hari ia pulang ke alam baka meninggalkan semua kisah di alam fana. Agak kaget, tapi bicara umur, siapa yang tahu?

Ia adalah adik kelasku, yang masa itu aku gak tahu dan sama sekali gak kenal. Perkenalan kami, justeru, setelah aku keluar dari sekolah, ia menyapa dan selanjutnya semua berjalan mendekatkan kami pada komitmen. Meski awalnya sempat bikin aku jengkel, waktu punya kisahnya sendiri.

"Aku masih sekolah di SMAN 2 Serang, kak," katanya. 

Aku percaya saja. Alasannya sederhana, karena gak mau ribet mencari perihal dia. Waktu itu, aku lagi sibuk-sibuknya meredam ambisiku untuk hijrah ke Jakarta dan berdamai dengan dunia usaha di Pasar.

Berat sih, bagaimana pun aku punya cita-cita dan mimpi. Mimpi itu inginku kejar ke ibu kota. Di sana aku ingin meneruskan studi S1 nyambi kerja part-time yang ditawarkan saudara bapak. Aku ingat kata-katanya,

"Kamu harus mau capek. Mengejar cita-cita itu perlu perjuangan!" 

Namun, keadaan sepertinya berkata lain. Aku harus tetap di rumah dan bergumul dengan dunia yang harus aku peluk penuh kedamaian. Melihat temanku cerita aktivitas di kampus sebenarnya buatku ngiler, tapi apalah aku, semua punya jalannya sendiri.

Di masa itu, ia menyapa dan menemani keluhku. Orang baru yang entah siapa dan apa, ngakunya anak statusnya tinggi. Apa aku kagum dengan itu? Gak sama sekali. Siapa pun dia dan anak siapa, seperti apa kelas sosialnya, aku gak peduli, yang penting dia manusia dan punya niat baik dekat denganku.

Dan memang akhirnya kami berteman. Dua jenis kelamin yang di dekatkan lewat pesan-pesan kehangatan. Kami saling menguatkan meski pun bersua tak pernah ada di kamus kami. Namun waktu akhirnya mempertemukan kami, dia yang masih berseragam dan aku pemburu rupiah sambil terus mengasah hobiku.

Apa yang aku tahu tentang dia baik, solehah dan pribadi jujur. Pertanyaannya dia yang sampai sekarang masih terus ingat adalah apa manfaat nyata dawam salat duha? Aku tidak bisa menjawabnya sebab ia bertanya soal pengalaman aku sendiri, bukan bertanya keutamaannya, jadi aku tidak tertarik mengelupasi amalku sendiri.

Kenapa aku dawam terhadap satu amal? Alasannya sederhana, karena aku suka dan nyaman. Meninggalkannya seperti ada yang hilang. Itu saja. Ia tentu masih penasaran, tapi itu tidak aku jawab pertanyaannya.

Kami memang sering berdiskusi banyak hal, utamanya memang tentang fiqih. Sebagai laki-laki, ada hal tabu yang aku tanyakan tentang perempuan. Syukurnya dia terbuka. Sering pula tukar buku bacaan, tentu saja koleksi bukunya tak sebanyak di rumah.

"Gimana, Kak, mau silaturahmi gak ke keluarganya?" kata adik saya mengingatkan.

"Memang sudah berkeluarga?" Saya balik bertanya.

"Sudah," katanya sekitar tahun 2023.

"Terus, kakak datang sebagai apa ke sana," tanyaku sambil tersenyum.

Aku paham pertanyaan adikku dan agak berlebihan memang mengingat kebersamaan kami dulu. Suaminya mana tahu. Tapi maksudku, keluarganya mungkin ada yang tahu aku dan aku gak mau terjadi apa-apa. Perasaan laki-laki kadang sensitif soal perempuan, dan keadaan suaminya sedang tidak baik. Jadi biarlah doa yang aku haturkan.

 Semoga ia bahagia di sana dan mendapatkan cahaya kubur yang indah. Ini sebuah renungan buatku. Semua akan pergi dan meninggalkan alam dunia ini. Pertanyaannya bukan kapan aku pergi dan siap atau tidak menjemput kematian. Soalnya, seberapa gigih dan ikhlas aku mempersiapkan bekalnya untuk kehidupan abadi di alam sana.

Kalau sudah begini, aku merasa malu sendiri. Betapa banyak dosa yang aku tumpuk tapi terus merasa aman dengan semua kesempatan yang Allah beri. Kalau ia sudah pergi, maka hanya butuh waktu kita yang membaca ini pun menuju alam abadi itu? Apa sudah siap? (***)

Pandeglang, 15 Februari 2026  00.13

Posting Komentar

0 Komentar