Ketersinggungan Terhadap Sebuah Karya Itu Biasa


 

sumber: Pita Kuning

Beberapa hari ini aku kehilangan selera untuk menulis, entah kenapa. Kalau harus jujur ada banyak yang membebani pikiran yang aku curahkan. Meski pun aku terus menimbang, perlukah untuk dituliskan. Seberapa layak itu dikonsumsi pembaca, sebab tulisan terkadang jadi harga buat penulisnya.

Ya memang kamu bisa menulis apa saja. Penulis punya kebebasan untuk itu. Sekali lagi itu hak kemerdekaan. Namun tiap karya kamu akan diminta pertanggungjawabkan oleh publik. Tipa pembaca bisa suka atau tidak dengan tulisanmu, bisa juga mungkin tak peduli.

Kalau ada yang mempersoalkan itu wajar. Kewajaran ini maklum seperti yang dikatakan Panji di Mens Rea-nya, katanya, "Orang gak bisa marah dengan gue, karena yang gue katakan adalah apa yang gue yakini. Menurut keyakinan saya!"

Bagiku ini pilihan kata yang agak rancu. Kenapa harus "memaksakan" katanya itu bisa disetujui tiap orang? Karena kita tidak bisa menakar perasaan orang. Orang bisa marah atau tidak, itu haknya dia. Ketika ada yang marah dengan konten Panji, aslinya dengan perkataan atau pun gestur-nya, bagiku itu wajar. Ada sebab, ada akibat.

Seperti Panji yang terusik dengan ulah politisi dan pejabat yang kurang sreg di hatinya, dia pun mengomentari dengan gaya komedi sarkas-nya. Padahal dia bisa juga bersikap apatis saja. Pejabat itu bisa saja berkata, "gak bakal ada yang terusik dengan kebijakan saya, karena apa yang saya kerjakan, adalah apa yang saya yakini."

Terus, gimana buktinya? Panji merasa terusik dan tidak setuju, dan termasuk kita sebagai rakyat pun banyak yang tak sejalan kok sama para pejabat, yang kadang kebijakannya di luar nulur. Bahkan kadang, jelas sangat syarat kepentingan diri dan kelompoknya.

Baik si pejabat maupun Panji sebagai rakyat "punya keyakinan" yang dipahami itu benar baginya. Apa ini subjektif? Tentu saja sangat subjektif. Hanya perlu digarisbawahi adalah bukan berarti pejabat tidak boleh dikritik kebijakannya. Maksud tulisan ini adalah, tiap orang bisa tersinggung oleh kata-kata.

Jelasnya, tidak untuk mencari siapa yang salah. Apalagi mengukur ketersinggungan ini jadi alasan untuk mempidanakan seseorang. Teringgung ya boleh saja. Marah dengan konten Panji wajar saja. Pasti itu karena ada kepentingannya yang terusik. Maksudku adalah jangan menyamaratakan rasa seolah semua orang sama dengan keinginan kita pun pikiran kita. Seperti yang dikatakan Panji di atas.

Keterhubungan dengan tulisan ini, tiap karya selalu punya pangsa pasarnya sendiri dan ketersinggungan adalah biasa aja. Pada akhirnya semua dikembalikan ke sikap kita sendiri bagaimana menyikapinya, apa dengan penuh kedewasaan. Benar kita negara hukum, namun tak semua harus diselesaikan oleh penegak hukum.

Lagian kita mengenal hukum adat, hukum sosial, hukum agama pun hukum negara. Artinya, ketika kita teriak kita negara hukum bukan selalu tujuannya tiap problem harus diselesaikan di meja hijau. Selama persoalan itu bisa dibicarakan, bisa dong kita gunakan secara kekeluargaan. Itu tradisi kita, warisan yang perlu kita pelihara. Menurut keyakinan saya sih begitu. Entah menurut keyakinan mereka. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 8 Februari 2026   14.45

Posting Komentar

0 Komentar