![]() |
| sumber: pixabay. |
Menjadi orang tua--baik jadi seorang bapak atau ibu-- tidak mudah, karena kamu harus memposisikan sebagai orang yang paling kuat di rumah dan dituntut untuk "terus berpikir" meski pun terkadang, tak ada yang memikirkan apa yang kamu pikir. Tak apa, dihargai atau tidak, memastikan keadaan baik di rumah itu poin utama.
Aku melihat itu dari ibu, yang berjuang mengurus dan memastikan 8 anaknya mendapatkan kehidupan yang layak. Hal itu semakin terasa berat karena bapak sudah pergi ke alam abadi dua tahun lalu. Otomatis, tugas itu makin double, antara harus jadi sosok ibu dan di saat yang lain belajar jadi sosok bapak.
Tapi sekuat-kuatnya ibu, ia juga manusia yang tidak sempurna. Suatu waktu ia menagis histeris karena memikirkan anak-anaknya, tentu saja kami, yang sering bersikap di luar nasihatnya. Berperilaku yang "hanya memikirkan dirinya" namun tak tertarik menggali apa yang ibunya pikirkan dan sedang hadapi.
Anak punya dunianya sendiri, maka lepas dari beban pikiran orangtua yang kerap njelimet adalah pilihan. Biarlah secapek apa orangtuanya, biarlah. Bukannya itu kewajibannya ya, mencukupi hak anak-anaknya. Maka, apakah salah ketika anak bersikap acuh tak acuh dan tidak peka dengan apa yang jadi beban pikiran keluarganya.
Sebab baginya, ketika anak terlalu jauh ikut meringankan beban keluarganya maka ia akan tumbuh lebih cepat dewasa. Ia bergumul dengan dunia yang tak sesuai usianya, lantas, ia jadi manusia dengan lingkungan muda seusianya. Maka, memilih acuh adalah pilihan agar tetap relevan.
Sah saja sih, kan dia anak dan mental seorang anak selalu ingin merdeka dengan dunianya. Kalau tak didengar bisa protes atau memberontak. Namun, bagaimana dengan sikap orangtua, apakah bisa bersikap demikian?
Ketika anaknya acuh dengan perintahnya, tidak mau mendengar nasihatnya dan tidak lagi peduli dengan apa yang dirasa orangtuanya, apa mugkin sikap orangtua mengabaikan saja kehadiran anaknya. Tidak lagi terlalu peduli, mau apa kek, mau sibuk apa kek, terserah. Biarlah ia merdeka dengan pilihannya, namun orangtua melepas pula segala ikut campur akan hidupnya.
Aku yakin, sedikit orangtua di dunia ini yang berpikir begitu. Seperti apa pun sikap dan tabiat anaknya, sikap orangtua sejati akan tetap mencintai dan menyayangi anaknya. Bagaimana pun ia anaknya maka wajib mendapatkan kucuran kasih tiada tara.
Memang kerap membuatnya kecewa dan kesal, tapi rasa cinta mengalahkan rasa sesal itu. Doa terbaik dan ikhlas terus dilakukan. Harapnya selalu besar, kalau tidak sekarang, mungkin nanti anaknya bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Terus begitu sampai di mana ia nanti merasakan, menyerah dengan keadaan.
Begitulah, orangtuamu berpikir berkali-kali mengabaikan hadirmu, seperti apa pun perilaku kamu padanya. Kamu minta jatah jajan tetap dikasih, tapi simpanannya sedang defisit. Ia tetap tersenyum padahal hatinya berkecamuk memikirkan mimpimu, inginmu, nakalmu dan masa depanmu kelak.
Oleh karenanya, banyak seorang anak menyesal ketika orangtuanya pergi di jemput kematian. Anak itu menangis histeris karena tidak bisa lagi mencium kasih ibunya, mendengar nasihatnya atau omelan cerewetnya lagi. Ironisnya, selama hidupnya ia abai dengan ibunya. Sibuk dengan dunia dan mimpinya, namun dunia itu akhirnya memisahkannya secara nyata.
Jangan menunggu nanti mengungkapkan kasih dan perhatianmu pada orangtuamu. Jangan menunggu sukses, lantas perhatian. Kita gak tahu kapan kita dijemput Izrail, apa setelah sukses atau sebelum sukses menjemput kita sudah terbujur kaku duluan. So, jangan menunggu nanti selagi ada waktu. (**)
Pandeglang. 2 Februari 2026 00.09

0 Komentar
Menyapa Penulis