Ketika Orang Melihat Kamu Orang Biasa Saja

iluststrasi rasa gagal yang mencekam. (Stekom.com)


 Ada banyak yang ingin saya pamerkan dan teriakkan, kalau saya sudah sukses. Kalau saya sekarang merasa berhasil. Indikatornya sederhana, saya bangga dengan diri dan tidak menjadi beban orang lain. Sedikitnya begitu pikiran saya, bukan untuk dikasihani tapi dipikirkan, sukses saya tak selalu sama dengan inginmu. 

Kalau saya pamerkan dan terus publis bakal berpikir lain tentang saya. Biar ada penilaian lebih adil dan tahu, apa yang saya lakukan, apa saya kerjakan, apa yang sedang saya kejar dan sudah saya dapatkan. Saya ternyata, tidak sekedar manusia yang diam menunggu takdir terbaik, saya juga manusia yang terus menggenapi mimpi-mimpi.

Agar tidak usah saya sanggah kata orang yang bilang, "kasihan sih dia, punya banyak potensi tapi merasa cukup kehidupan sekarang di kampungnya. Padahal saya percaya, mimpinya tinggi tapi tak mau menaiki tangga menuju mimpi tersebut."

Atau begini, "saya tak pernah tahu dia belajar di mana dan kok tahu banyak hal. Saya masih meragukan apa yang dia tahu dan entah, apa secara rumus intelektual keislaman bisa dipertanggungjawabkan?"

Atau begini: "Dia terlalu dini menampilkan diri seperti sekarang. Ada banyak hal yang harus ia kejar, harus ia dapatkan dan ia bisa lakukan sebagaimana potensi dirinya. Andai saya ada di posisinya sekarang, mungkin banyak hal bisa saya lakukan."

Tapi, untuk apa ya, bukannya tiap orang punya mimpinya masing-masing. Punya langit penuh warna yang tak melulu sama dengan yang lain. Pastinya, keberhasilan yang saya, kamu dan mereka lakukan tak melulu rasanya sama.

Misalnya, bagi saya makan bakso yang harga 50 ribu adalah pencapaian dalam hidup karena saya menikmatinya dengan penuh rasa bangga. Biasanya paling 5 ribu atau 10, nah ini 50 ribu. Mungkin kalau saya posting di media sosial dan teman-teman melihatnya, mereka bakal ngiler. 

Tapi bagimu mungkin biasa saja. Apa itu bakso 50 ribu dan kenapa harus bakso dari sekian banyak menu lain yang lebih istimewa lagi enak? Lah, itu sudut pandangmu. Barangkali ada hal yang tak kamu tahu, di balik bakso itu ada kenangan yang buat orang teringat sesuatu spesial. Tidak sekedar bakso belaka.

Ini baru dalam tataran sederhana, bagaimana dalam skala yang lebih luas lagi. Kita sering dibuat resah karena anggapan orang yang dikatakan sebagaimana standar pikirnya, padahal apa yang ia anggap belum tentu sesuai dengan standar hidup kita. Kita berhak memilih hidup kita dan memutuskan apa yang sebaiknya kita lakukan, lantas kita nikmati.

Semua itu tak selalu harus dipamerkan. Semua yang kamu nikmati atas pencapaian hidupmu tak semuanya orang tahu dan kamu beritahu. Percaya, tak semua ingin kamu sukses dan bangga dengan pencapaian kamu. Sebaliknya, saat kamu terpukul dengan segala kegagalan demi kegagalan kamu, ada selalu yang peduli dengan kamu dan mereka berharap kamu terus bangun dari keterpurukan dalam hidupmu.

Artinya, berhasil tak selalu soal setinggi apa jabatan kamu. Tak selalu se-terkenal apa kamu. Tak melulu seberapa banyak prestasi yang kamu dapatkan. Bisa saja berhasil kamu itu ketika kamu bisa terus bertahan dari kata-kata yang ingin menjatuhkanmu dan terus melangkah menuju mimpi yang belum mereka pahami hasilnya sekarang.

Untuk apa hidup terus dibelenggu oleh kata negatif, tapi lagi-lagi kamu lupa masih bisa memilih: antara terus tak berdaya atau berdaya dengan apa pun kata orang. Sikapmu menentukan apa yang baik kamu lakukan, bukan apa yang terus kamu resahkan. Wallahu'alam. (**)

Pandeglanhg, 26 Januari 2026  22.09

Posting Komentar

0 Komentar