![]() |
| Panji di Mens Rea yang bikin gaduh. |
Panji kembali dilaporkan ke pihak kepolisian karena diduga menistakan agama. Konten Mens Rea-nya menyentil perilaku mereka yang menentukan pilihan politiknya "hanya karena salatnya baik". Itu kata Panji aneh-aneh.
Harusnya, memilih pemimpin tak hanya karena salatnya tidak bolong-bolong saja. Sebagai warga yang baik, tentu juga muslim yang cerdas, harus pula tahu track-record si calon. Caranya bagaimana? Gunakan matamu, kupingmu dan akalmu untuk menganalisis para calon yang ada. Bandingkan mana yang paling baik, lantas coblos. Begitu kata UAS.
Artinya di sini jelas, Panji menganjurkan kita untuk tidak melihat calon pemimpin tidak hanya baik salatnya saja tapi juga kualitas dirinya. Karena baik salatnya, tidak hanya di dalam salatnya saja tapi harus ada manifestasi dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi agak heran kenapa kok mereka yang mengatasnamakan ormas islam ditolak sama ormas resminya, sebenarnya ada apa? Ditambah makin runyam karena ada yang mengatasnamakan umat Islam yang tersinggung dengan ujaran Panji di Men Rea itu. Sesumbar Panji dituduh menistakan agama!
Tuduhan ini sungguh serius, sekaligus membingungkan. Menurut pemahaman saya, Panji itu muslim dan berusaha menggali keilmuwan agamanya dengan baik. Kita bisa melihatnya di kanal pribadinya yang membuat konten khusus dengan Ustaz Felix. Katakan ia punya niat jahat terhadap agamanya, untuk apa konten soal kajian keislaman itu?
Saya setuju dengan argumen seorang profesor di acara TV One, bahwa apa yang dikatakan Panji itu bukan "menghina agamanya" itu tapi sedang menyorot "perilaku orangnya" yang perlu diberi edukasi. Singkatnya, ia hanya memberi anjuran bukan mencerca agamanya sendiri.
Kondisi negeri tercinta memang sekarang lagi tidak baik. Perbedaan pandangan kerap kali disikapi serius. Kritik sering dikaburkan dengan penghinaan. Lucunya, pengen selalu dipuji tanpa mau dibongkar boroknya padahal dia pejabat negara yang digaji rakyat. Rakyat bicara karena ingin mengoreksi tapi kok harus selalu senada dengan mereka yang pro sama kebijakan pemerintah.
Sepantasnya sih, kalangan muslim yang katanya reprentatif dari tokoh agama itu bukan melaporkan dan sibuk mencari apa salahnya mereka yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah. Oke lah Panji salah--namanya manusia bisa salah kan wajar--tapi solusinya tidak selalu berurusan ke meja hijau.
Kita kan negara yang kaya dengan tradisi dan budaya. Ketidaksetujuan pendapat tidak selulu berujung ke Polisi, kan bisa dengan klarifikasi di warung kopi misalnya. Atau menunggu kesempatan biasa bertanya langsung sambil bancakan menu sederhana sambil ngobrol santai.
Rasanya melelahkan sekali-kali, dikit-dikit lapor polisi. Ada salah paham solusinya polisi. Lalu, apa artinya kekayaan tradisi kita yang katanya bangsa yang ramah tapi lucunya kok mudah tersinggung. Jangan sampailah kita, sebagaimana disinggung Gus Dur, umat yang mudah marah bukan senyum merekah. Wallahu'alam. (**)
Pandeglang, 31 Januari 2026 23.05

0 Komentar
Menyapa Penulis