| Komika Panji yang tengah jadi sorotan. |
Setelah Mens Rea muncul di Netflix mucnul kegaduhan di jagat media. Konser lawak tunggal yang memang tujuannya melucu menimbulkan ragam pandangan, ada yang mengatakan melucu tak harus sebegitunya. Demi cuan mengejek pejabat negara sampai body shamming ke wapres. orang nomor dua di republik ini.
Sekelompok mereka yang terbiasa dan akrab dengan komedi justeru merasa terhibur. Bagi mereka, apa yang panji katakan memang fakta yang ada. Tak mungkin sekelas Panji bicara tanpa data. Tak pula bicara tanpa harus riset. Mustahil pula tanpa dikskusi-diskusi panjang dengan para tokoh yang "ia tokohkan".
Buktinya, ia kerap mengatakan argumennya "kalau keyakinan saya". Menurutnya itu atas nasihat Haris Azhar, seorang pengacara, aktivis HAM dan orang yang kerap lantang mengoreksi kebijakan pemerintah. Terpenting katanya bisa melawan Menko Luhut waktu itu sering di stempel Menteri Serba bisa.
Suara yang cukup menarik dan agak mengelitik dari Irma Chaniago di Catatan Demokrasi. Apa yang dikatakan Panji katanya berlebihann, diksinya kurang bijak. Harusnya memilah kata mana yang pantas. Bahkan katanya komedian perlu ke depannya "dipantau kontennya" agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Sebenarnya, Panji sekarang yang terkenal lantang mengkritik kebijakan politik dan sikap politisi bukanlah muncul tiba-tiba. Semenjak ia terjun di dunia stand up, dirinya memang rajin bicara politik dan mengomentari kebijakan pemerintah di tahun 2010-an.
Tidak hanya tajam di lisan, ia juga sudah banyak menulis pikirannya dalam sebuah buku. Misalnya kita bisa membedah pikirannya di buku Nasionalisme-nya. Kita bisa melihat, ia tak hanya melihat dirinya tapi ingin menyadarkan mereka yang sudah tidak bangga dan betah di Indoenesia.
Sebelum tag kabur dari Indonesia, ia sudah lebih dulu membahasnya sebelas tahun lalu, bahwa kabur tidak selalu jadi solusi. Ia bercerita sepasang suami isteri yang akan meminjam uang kepadanya untuk ongkos ke Amerika. Di Amerika katanya mau mencari kerja. Mungkin di sana nasib mereka bakal lebih baik daripada di Indonesia. Gaji di sana besar dan kemungkinan untuk sukses pun cukup mudah. Bahkan kerja jadi pencuci piring pun siap, asal bisa hidup dan punya penghasilan saja.
Panji tentu tidak setuju. Sukses itu tak selalu melihat tempat dan negara. Memang kerja di Anerika gajinya besar tapi beban hidupnya bukannya besar juga ya, karena kan negara maju? Apa bedanya kita kerjannya di Lamongan namun domisili kita di Jakarta? Tentu secara UMR beda. Beban hidupnya beda lagi. Lain hal kalau di balik. kerjanya di Jakarta dan domisilinya di Lamongan maka secara finansial bebannya lebih ringan, lebih mudah ditabung.
Panji melihatnya lebih kepada sudut pandang, bukan sekedar keinginan semu saja. Pada akhirnya, di Amerika pun tidak ada jaminan bakal sukses. Karirnya pun belum pasti juga berjalan mulus karena di sana harus memulai dari nol lagi.
Panji Sekarang
Bagi saya, mereka yang baper dengan lawakan Panji bahkan menuduhnya kabur ke New York atas tudughan mencemari nama baik NU dan MU yang dilaporkan sekelompkok anak muda, adalah orang yang melihat Panji Pragiwiakosno sekarang. Melihat sekarang tanpa mau meliha jejak pikirann dan apa yang ia kerjakan.
Panji dan politik adalah satu kesatuan. Ia tidak membenci politisi tapi sedang bicara politik sebagai warga negara. Berulang kali ia bicara tak peduli dengan para politisi, tapi lebih peduli sama rakyat yang kerap tertindas oleh kebikjakannya.
0 Komentar
Menyapa Penulis