Orang Bodoh Itu Orang Jatuh Cinta dan Orang Paling Bodoh Orang Yang Patah Hati Karena Cinta

 


Kita sering mendengar sepenggal kalimat di atas, orang bodoh itu orang yang sedang jatuh cinta dan orang paling bodoh adalah orang yang patah hati karena cinta. Bagi kamu yang belum tahu liku-liku dunia percintaan mungkin terdengar aneh, masa sih jatuh cinta bisa jadi orang bodoh, bukannya bodoh itu karena tidak mau belajar?

Sebut saja namanya Jon. Sejak ia mengenal Kamila, gadis manis puteri Pak Tani, ia sering terlihat senyum-senyum sendiri. Gawai di tangannya tak pernah lepas selalu dijaganya. Apalagi di sana terlihat ada foto anggun Kamila dengan balutan kerudung hitam dan gamis yang amat indah menyatu dalam tubuh semampai itu.

Ibunya tadinya heran, kenapa anak bujangnya kok bersikap aneh sepulang dari kampung sebelah. Katanya ke sana mau menghadiri diskusi soal acara buat acara pekan literasi di kota mereka. Kabarnya bakal hadir penulis kesohor karyanya yang diburu pecinta buku.

Ibunya heran sekaligus cemas, jangan-jangan anaknya.... ah tidak mungkin batinnya menolak. Ingin ia tanyakan pada anak lelakinya yang terkenal kalem dan agak pendiam itu, tapi sungkan. Ia tahu diri, harus menunggu waktu tepat.

Tidak dengan ayahnya, melihat tingkah anaknya itu. Ayahnya paham dan memahami bagaimana virus merah jambu itu menyapa anaknya, pemuda yang belum tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Maka, saat isterinya cemas dengan tingkah anaknya, ia hanya berkata singkat,

"Ia sedang jatuh cinta!"

Begitulah cinta, saat merasuk di kedalaman jiwa banyak orang seperti kehilangan kesadaran. Akal sehatnya kadang tertukar dengan logika semu. Di bayang dan matanya selalu menghantui satu nama yang menyita jiwa dan hatinya. Ke mana pun dan di mana pun. Wajar kalau ada istilah bilang, bagi para pecinta, rasa tahi kucing saja serasa coklat! Tentu tak melulu aslinya begitu, hanya perbandingan saja.

Lantas bagaimana dengan orang patah hati kok dicap paling bodoh?

Orang patah hati (baca: orang putus cinta atau ditinggal menikah kekasihnya) selalu memaknai putus cinta semacam akhir harapnya. Putus dari dia yang terkasih adalah runtuh dunianya. Terkoyak jiwanya. Hilang semangatnya. Mungkin hilang segala keindahan di jiwanya, seolah tanpa dia kiamat sebentar lagi hadir di depan matanya.

Hiks, ngeri sekali kan?!

Mungkin terlalu lebay bagimu yang belum pernah merasakannya. Belum percaya kalau belum melihat tingkah dan sikap mereka yang kadang di luar nulur. Sehari-hari menangis. Lupa makan, dan lupa waktu. Lupa jaga diri. Syukur tidak lupa sama Sang Maha Pencipta_nya yang terus memberi rahmat dan kasih-Nya.

Sebut saja Rohmat, dia sebelumnya terkenal orang yang ceria. Tampilannya necis. Sederhananya, aura dia positif banget. Entah kenapa akhir-akhir ini terlihat tak bertenaga. Tatapannya kosong. Tubuhnya terlihat lebih tua daripada biasanya.

Selidik punya selidik ternyata ia mendengar orang terkasihnya meninggalkannya karena memilih laki-laki yang lebih mapan darinya. Kabarnya dalam waktu dekat bakal menikah. Tentu saja itu terpaksa, selain karena tekanan keluarganya juga respon masyarakat kurang enak melihat perempuan usia 20-an tinggal di perkampungan tak kunjung menikah. Ya, simalakama. 

Kalau kita menggunakan logika si Rohmat, mungkin wajar bersikap dan bertingkah begitu. Siapa sih yang mudah menerima kenyataan kekasihnya menikah dan ia harus menerima kenyataan pahit sendiri dalam luka yang menganga karena bayangan ia yang selalu melekat di kepala. Siapa yang kuat? Kalau Qais sampai majnun, kalau Romeo nyaris mati, dan sampai Julius Cesar sampai menumpahkan darah demi Cleopatra?

Namun yang luput dari pikirannya Rohmat, dunia ini sementara dan ia tidak tahu, pastinya gak bakal tahu siapa yang jodoh terbaik untuknya di dunia ini. Baginya mungkin dia yang terbaik, tapi siapa yang tahu, mungkin dia pula yang bakal jadi bencana untuk jiwanya nanti. Sekaranh dia tersakiti, itu mungkin lebih baik daripada nanti saat dia rasa sangat dalam dan kehilangan kesadaran mendefiniskan kisah cinta.

Seharusnya sebagai manusia yang tercipta sempurna, ia mau berpikir kritis, yang pergi biarkanlah pergi. Tak usah terlalu dipikirkan sampai lupa ada banyak yang mencintainya tapi luput karena satu nama yang baru beberapa tahun mengisi jiwanya. Kalau ingin pergi, biarkanlah. Sulit memang, berat pastinya.

Percayalah, selalu ada hikmah di baliknya. Kita gak akan bisa mengobati hati kita terkecuali karena kita mau berusaha memperbaikinya. Allah telah memberikan kemampuan luar biasa ke kita lewat akal, iman dan perasaan. Maka gunakan itu. Kamu terluka dan tersakiti, ya sikapi sewajarnya.

Esok pagi masih ada mentari bersinar di ufuk timur. Esok masih ada senja yang bersinar redup di ujung langit sana. Masih ada anugerah nyawa di jiwamu. Ada akal sehat di kepalamu. Pikirkan itu. Ada banyak tugas-tugas lebih besar seharusnya kamu selesaikan daripada terpuruk tak tentu tujuan.

Seperti dulu sebelum ada dia kamu bisa baik-baik saja. Bisa tersenyum ceria. Bisa semangat mengejar cita-cita. Bisa jadi dirimu yang lebih produktif. Lantas, kenapa kamu rela nasib hidupmu yang istimewa itu luput oleh orang yang tak ingin dan peduli sama kamu. Padahal, ada banyak cinta di sampungmu, namun sayang semua tertutupi oleh cara berpikirmu yang tak lagi jernih. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 6 Januari 2025   00.17

Posting Komentar

0 Komentar