| Ilustrasi dua sejoli setelah menikah. (sumber: Baznas Depok) |
Beberapa hari ini kerapkali saya mendengar orang yang sudah menikah mengeluh, ternyata pernikahan itu tidak seindah yang dibayangkan sebelumnnya. Setelah menikah kamu jadi penanggung jawab juga tameng yang harus siaga untuk istrimu dan orang terdekatmu.
Tak ada lagi itu kongkow tak perlu. Tak boleh lagi keliaran semaumu. Harimu adalah segenap pikiran yang perlu dilakukan. Berbeda dengan masa muda dulu, masih merdeka dengan keinginan dan harapan. Setelah menikah waktumu adalah ikhtiar.
Lantas kalau kamu pikir setelah menikah hanya menyoal seks seperti yang dipikirkan remaja tanggung, tidak selalu begitu. Seks di rumah ternyata tak se-eksklusif semacam ladang dulu. Soal durasi, ah jauh api sama panggang. Banyak orang tertipu karena salah melihat menikah hanya soal ranjang saja.
Sampai di sini saya pun berpikir sebagai orang masih merencanakan pernikahan, sebenarnya menikah itu apa tujuannya dan apa yang hendak dicari?
Saya sering heran pada mereka yang sudah menikah sering berkata: baik soal beban biaya, beban waktu, tanggung jawab ke pasangan, tugas berat mengurus anak, beban tanggung jawab dan hal lain lainnya. Kenapa harus mengeluh, bukannya dia tahu sebelum menikah adalah menyatukan dua manusia yang berbeda secara kodrat.
Artinya harus ada penyesuaian dan ikhtiar ekstra yang dilakukan, Ada beban perlu ditanggung dan sebagainya. Ini fix loh. Dengan semua keluhan di atas itu, lantas apa sesungguhnya yang ia pikirkan pas memutuskan menikah?
Sederhana sekali, pernikahan kamu penuh sesal dan keluh tanpa batas, apa yang kamu pikirkan dulu dengan semua keputusanmu? Sebab kalau kita baca di kajian keislaman, menikah itu proses pendewasaan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.
Lain dari itu untuk menghasilkan sakinah (ketentraman), mawadah (ketenangan jiwa), dan warahmah (kasih sayang tulus) dalam kebersamaannya. Rumah jadi tempat nyaman untuk pulang. Pasangan jadi tempat berteduh yang melegakan. Sebab, pasanganmu ia yang tahu maumu tanpa harus kamu jelaskan apa inginmu dan seperti apa cita-citamu.
Percayalah, pasangan yang kenyang di rumah tak akan macam-macam di luar rumah. Sebaliknya, pasangan yang selalu kamu pikirkan dan pertanyakan kesetiaannya di luar rumah maka patut kamu renungkan, bagaimana hubungan kamu sekarang dan bagaimana memperbaikinya.
Segala sesuatu bisa diusahakan, segala kekurangan bisa diperbaiki, dan segala keidaksempurnaan bisa saling disempurnakan. Oleh karenanya, jangan bertanya, kenapa ia berubah tak seperti dulu tapi cari solusi selagi hubungan itu bisa diperbaiki, bagaimana caranya bisa sehangat dulu lagi. Wallahu'alam. []
Pandeglang, 10/01/2025 13.22
0 Komentar
Menyapa Penulis