Puasa Ketiga Ramadan 2026

 

Sumber: Fimela.com

Pada hari ketiga Ramadan ini, saya tertarik menonton kajian-kajiannya Gus Baha. Selalu ada perspektif lain soal ajaran Islam yang kadang luput dipahami oleh kita. Misalnya, soal tagline, Muslim itu harus kaya agar dihormati. Di hormati karena kaya-nya atau mungkin penghormatan akan diberikan karena punya kekayaan.

Karena ini, akhirnya penghormatan diberikan kepada orang kaya saja. Semakin kamu banyak memberi, maka sebanyak itu pula penghormatan yang kamu dapatkan. Meski pun jadi dilema, bagaimana orang miskin? Apakah mereka tidak berhak mendapatkan penghormatan?

Oke, mereka secara finansial tidak punya kekayaan untuk diberikan. Lalu, bagaimana kalau mereka punya hal lain yang bisa diberikan? Misalnya, tenaga dan pikiran, atau mungkin keikhlasan. Apa lantas karena itu tidak layak diberikan penghormatan?

Argumen Gus Baha keren sekali sih, relevan dengan kasus sosial. Artinya, benar bahwa umat kita ingin peradaban Islam yang maju. Tapi peradaban itu maju harus berangkat dari keyakinan kita sendiri untuk membangun kualitas diri kita sebagai umat.

Bukannya banyak orang teriak ingin membangkitkan Islam, membangunkan Islam dari keterpurukan, menyadarkan soal perdaban, tapi sama tetangganya gak atur. Dia terlalu sibuk sama pikirannya, tapi lupa terhadap lingkungan sekitar yang harus dia jaga keharmonisannya. Dijaga kualitas peradaban-nya. Sebelum dia teriak keluar, dia sudah punya target kecil di sekitarnya.

Akhirnya, banyak yang harum di luar tapi asing di lingkungannya. Karena apa? Sibuk dengan hal besar, tapi luput dengan hal sederhana. Kalau kita mencontoh dakwah Nabi, sederhana sekali. Mengajak, mengajar, atau merangkul mereka yang kurang baik terhadap Islam agar punya pandangan baik terhadapnya.

Pandangan itu yang diharapkan. Kesan dulu baru pesan, begitu kalau istilah Habib Ja'far. Urusan ia mau menerima Islam atau tetap bersikap apa adanya kepada Islam, ya terserah. Citra Islam lebih penting daripada penilaian dulu.

Artinya, tidak selalu salah kamu Islam, tapi tetap miskin. Miskin itu bukan aib. Kemiskinan itu bukan masalah kalau disikapi dengan cerdas. Maksudnya, kamu miskin secara materi tapi punya mental agar tidak mempermalukan diri dengan meminta-minta. Itu jauh lebih baik daripada kaya, tapi tidak cukup punya moral yang baik terhadap agama dan bangsamu.

Kalau pun nanti berkah usahamu, nanti kayak. Kekayaan itu jangan sampai membuatmu lupa diri. Lupa harta itu titipan. Lupa di balik kekayaan kamu masih ada hak orang lain yang Allah titip di hartamu. Hanya saja, kamu lupa dan luput. Kamu terus berpikir bahwa apa yang saya dapatkan adalah hasil usaha saya, bukan hasil anugerah Allah pada mereka yang dipilih-Nya.

Sampai di sini, Gus Baha itu bukan anti kemapanan. Tapi lebih mengajak kita bersyukur sesuai nikmat yang kita punya. Kamu yang punya rumah dan gaji pas-pasan, besykurlah. Bukannya di luar sana hujan dan mereka tidak punya tempat singgah, mirisnya lagi tak punya cukup uang untuk menyewa. 

Hal sederhana itu bisa jadi luar biasa di mata mereka yang biasa karena memaknai dengan istimewa. (**)

Posting Komentar

0 Komentar