KEPENATAN DI AWAL HARI

Menjalani hari dengan rupa yang sama dalam waktu yang lama sering membentuk sikap bosen. Sebuah sikap yang wajar. Karena tekanan beban hidup yang banyak memaksa untuk survive, di lain pihak ada nyeri di jiwa. Tak ada lagi rasa nyaman. Ini terasa di titik menjengkelkan.

Kembali lagi, semua tergantung orangnya. Ada orang yang cerdas membaca keadaan. Sehingga bisa menyikapi dengan cara cerdas. Tapi kan tak semua orang bisa seperti itu. Bidak kehidupan tak selalu biasa dilakukan, bisa jadi kurang pengetahuan atau pengalaman. Atau bisa karena malas saja. 

Di sinilah perlunya mengelola jadi diri. Pagi itu awal yang bisa menentukan hari yang akan dijalani. Rusaknya mood pagi bisa menghancurkan asa yang di jalani. Seni membudayakan positif thinking amat perlu. Dunia tanpa harapan bisa membunuh. 

Seperti pagi ini, ada awal yang buat saya gabut. Bukan sedang patah hati atau merindu orang yang tak memahami hati. Lebih kepada penyikapan pada awal atau efek mata yang mudah sekali ingin merem. Padahal hampir setengah malam habis dipakai hanyut di alam mimpi. Bisa-bisanya pagi dipakai tidur lagi. Makanya saya suka cemburu kepada mereka di awal pagi yang punya optimisme tinggi dan jarang mengabiskan di kamar tidur. Malam-malamnya pun tak terlalu banyak tidur, paginya ya biasa saja.

Contohnya itu bapak. Tiap pagi bangun tampil dengan pagi dihabiskan oleh aktivitas rutin. Jarang sekali menghabiskan waktu pasca subuh dengan tidur. Apa -- panggilan guru ngaji di Gorobog sana -- memulai aktivitas pagi dengan aneka aktivitas produktif. Fokus pada nilai ibadah juga tak lupa dengan nafkah. Di pagi buta sudah terjun ke kebun. Menanam atau membersihka ilalang yang ada. Sampai malu saya melihatnya. Saya di usia semuda ini tak se-produktif itu. Tak berpikir sejauh itu pula. Miris sekali. 

Apa ini wajah atau citra generasi abad milanial? Bisa jadi. Ingin sukses dengan usaha minim. Ingin bahagia tanpa gerak nyata. Ngomongnya merasa paling benar, pintar lagi hilai. Dalam aksi nyata tak ada yang istimewa. Paradoks. Hal ini bisa dilihat dalam latar gerak di sekitar kita. Tapi eh, bisa jadi itu hanya anggapan semu. Atau memang gambaran diri saya. Sok-sok idealis menyalahkan pada orang lain. Paradoks lagi deh. Wallahu 'alam. []

Pandeglang,   25/7/2021 

Mahyu An-Nafi

Posting Komentar

0 Komentar