Film Lawas

 


Minggu-minggu ini aku intens menonton film-film lawas tahun 70-80 an. Kenapa aku melakukan ini, tak ada apa sih cuma mengobati rasa jenuh atau pelarian kalau lagi boring baca buku. Terlebih kalau yang sedang dibaca buku berat, rasanya pelarian perlu jadi solusi ke sekian.

Dari film lawas itu aku mendapatkan pengalaman baru, misalnya bagaimana kondisi sosial-masyarakat masa itu. Bagaimana kondisi budaya yang berkembang dan modernisasi yang merayap

Aku dibuat takjub dengan kesederhanaan dan akting yang terlihat natural. Skenario yang mudah dipahami. Terlebih kondisi alam yang masih asri. Langit belum penuh ozon. Polusi belum sepekat sekarang.

Hari ini kita menghadapi pemanasan global yang cukup akut, baik efek rumah kaca maupun gaya hidup yang serba tak natural. Kalau ada istilah dua pohon bisa menghidupi nyawa maka sekarang pohon seperti tak ada harganya. Demi pembangunan, kita rajin menebang pohon tapi sering lupa menanam kembali.

Kita bisa melihat itu di musibah banjir yang menimpa saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatera Barat per jum'at (5/12/25) di laman BNPB tercatat ada 836 korban meninggal, 509 hilang dan 2,7 ribu orang terluka. Jumlah ini bisa saja terus bertambah melihat kondisi di lapangan yang buat kita terluka.

Masih ada tangis, jerit dan perih di sana. Di saat yang sama sisa material masih menumpuk. Kayu gelondongan yang tergeletak amat banyak. Entah itu karena ditebang, roboh sendiri atau justeru barang yang siap kirim tapi alam berkata lain pada mereka yang memperkosa bumi dengan penuh serakah!

Di film lama itu, aku masih melihat keasrian. Pohon-pohon besar yang masih gagah. Sungai masih segar. Langit masih merona. Manusia yang tampak sederhana. Berbalik cukup jauh dengan masa kita sekarang, ketika segala sesuatu di lihat secara metrealistis dan pragmatis. Bagaimana menurutmu? (**)

Pandeglang, 6 Desember 2025   10.18

Posting Komentar

0 Komentar