Musuh Kita Penyakit Hati

sumber detik.com

 Ada empat hal yang bisa membuat hati manusia keras dan celaka: panjang angan-angan, sombong, tergesa-gesa dan iri. Empat hal itu kata Imam Ghazali di kitab Minhajul Abidin, tidak hanya menyertai orang awam tapi acapkali membuat qurra dan ulama rusak kemurniaan hatinya.

Jangan salah, orang yang kita anggap "tahu agama" bisa begitu juga lepas dari penyakit empat itu. Justeru sebaliknya, karena status mereka yang mulia itu menampilkan pakaian yang islami dan anggun, tapi siapa nyana di balik itu tersimpan sikap dan sombong yang menggelora.

Ujaran Imam Ghazali itu bukan sekedar kalimat biasa. Beliau pernah menjalani masa di mana karir nya amat tinggi dan namanya harum. Beliau sarjana muslim yang moncer nya. Guru besar di kampusnya dulu.

Namun semua ditolak, karena baginya, jiwanya resah dan sunyi. Bahkan saking viralnya, jama'ahnya dalam pengajian saja ada 7.000 orang. Jumlah itu tentu luar biasa di masa itu, saat dunia masih miskin dengan produk teknologi. Demikian kata UAS dalam satu kesempatan.

Namun di akhir pengembaraan intelektualnya, Imam Ghazali mencari ketentraman bertahun-tahun safar ke berbagai negara islam. Di sini beliau menekuni tasawuf sampai ditasbihkan sebagai pakar di bidang tersebut sampai akhir hayatnya.

Singkatnya, empat hal itu ujian nyata bagi kita, terlebih bagi para ulama dan Qurra. Menarik sekali beliau beberapa kali menyentil qari dalam kitabnya, sebab di masa kini hal itu adalah lumrah. Namun yang hendak beliau kritik adalah jangan sampai keindahan suara mengikis rasa tawadhu dan esensi luhur ayat yang dibaca. 

Bacaan itu jangan kehilangan ruh. Di balik ayat itu ada pesan dan makna di dalamnya. Maka, sebelum orang lain diberi pengertian paham artinya maka dirinya sendiri yang harus lebih dulu menggali makna.

Jangan sampai, pembawa pesan suci sibuk mengemborkan kesucian hati pada jadinya hatinya masih penuh dengan kepentingan-kepentingan semu. Baju dan busannya bolehlah dikatakan Islami, tapi bagaimana dengan kualitas dirinya? Atau jangan-jangan, penulisnya sendiri yang begitu, pandai berkata tapi penuh dengan durja di dalam hatinya? Waiyya udzubillah. (**)

Pandeglang, 9 desember 2025  17.35

Posting Komentar

0 Komentar