Belajar Kesederhanaan dari Seorang Pendeta di Pandeglang

Ilustrasi seorang pendeta yang aku temui. (Sumber: AI)

 

 Apakah hidupmu bahagia?

Sepulang dari belanja di agen, aku melihat seorang bapak yang tengah joging dengan langkah agak tertatih di pinggir jalan raya . Dengan celana selutut ala kadar, baju apa adanya, dan sepatu yang terlihat tak menampilkan kemewahan.

Siapa yang menyangka kalau bapak berambut putih keperakan dan berkulit agak legam itu tokoh Kristen karismatik di Pandeglang?

Pak Kasidu namanya. 

Memang tak nampak sekali tampilan beliau. Beliau lebih terlihat sebagai orang biasa. Maklum juga, di lingkungan yang mayoritas Muslim, menampilkan simbol keagamaan kadang-kadang membuat salah paham. Penampilan beliau aku tangkap sebagai wujud penyatuan dengan lingkungannya.

Aku tidak ingin masuk ke isu agamanya, namun ingin melihat aktivitas beliau tersebut: berani tampil apa adanya. 

Lari siang menjelang sore itu seolah kesadaran yang ingin diperlihatkan kepada kami, kalangan muda. Aku saja yang sudah sepuh peduli loh sama kesehatan, lah, kamu?

Tiba-tiba aku jadi berpikir, bahagia dan membahagiakan diri sendiri sederhana, ya. Berapa orang yang mengaku ingin bahagia dan merasa bahagia, namun belum juga merasakannya?

Padahal kalau kita lihat, hidupnya baik-baik saja kok. Bahkan terlihat sempurna. Terus, kenapa dia belum merasa bahagia?

Alasannya sederhana: dia melihat kebahagiaan itu pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri. Kalau kita bisa melihat pendeta yang aku ceritakan di awal itu, amat sederhana sekali, jogging dengan langkah santai agak tertatih.

Kita mungkin akan berpikir, apa sih spesialnya? Aku juga kalau begitu? Ya, kamu bisa seperti itu. Sayang, kamu belum melakukannya. Kamu hanya bicara, tapi belum mengaplikasikannya.

Poinnya itu: kamu melakukannya, tidak hanya mengatakannya. Warning nih buat penulisnya jua. Hihi. (**)

Pandeglang, 16 September 2026   23.49

Posting Komentar

0 Komentar