![]() |
| Almarhum Bapak kolot tengah berkumpul di rumah. |
Tadi malam, tidur saya dihampiri oleh sebuah mimpi yang tidak biasa. Bukan sekadar bunga tidur, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa saya melintasi dimensi waktu. Saya bermimpi kembali ke rumah lama beliau, sebuah tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama Bapak Kolot—panggilan penuh hormat dan sayang saya untuk almarhum kakek.
Uniknya, dalam pertemuan itu, Bapak Kolot tidak mengucapkan sepatah kata pun secara langsung kepada saya. Tidak ada nasihat lisan yang ditujukan khusus untuk saya.
Namun, apa yang saya lihat jauh lebih kuat dari untaian kata-kata. Saya seperti ditarik masuk ke masa lalu, berdiri langsung di tengah-tengah lini masa sejarah hidup beliau.
Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana jalan perjuangan Bapak Kolot di dunia dakwah pada masa itu.
Di dalam rumah yang bersahaja itu, saya melihat Bapak Kolot sedang memimpin sebuah majelis ilmu. Wajahnya tampak begitu serius dan berwibawa saat menyampaikan kajian sebuah kitab.
Dengan penuh ketelitian, beliau membedah lembar demi lembar, menjelaskan dan membandingkan pandangan hukum dari beberapa ulama besar demi memberikan pemahaman yang mendalam kepada jamaahnya.
Di hadapan beliau, duduk para murid yang mendengarkan dengan penuh khidmat. Suasana ruangan begitu tenang, dilingkupi rasa hormat dan dahaga akan ilmu.
Kehadiran Bapak Kolot di tengah-tengah mereka memancarkan wibawa seorang guru yang sejati—seseorang yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mengayomi dan menuntun hati murid-muridnya.
Berada di sana, merasakan langsung atmosfer dakwah yang begitu murni, membuat dada saya dipenuhi oleh satu rasa yang membuncah: bangga.
Saya bangga menjadi bagian dari garis keturunan beliau. Saya bangga karena memiliki teladan nyata tentang apa artinya mendedikasikan hidup demi ilmu dan umat.
Mimpi ini menyadarkan saya bahwa ilmu yang beliau ajarkan dan ketulusan dakwah di rumah itu adalah warisan (legacy) terbesar yang nilainya abadi, melampaui materi apa pun.
Melalui mimpi tanpa kata ini, saya belajar bahwa sebuah tindakan berbicara jauh lebih keras daripada ucapan. Bapak Kolot tidak perlu menasihati saya untuk menjadi orang yang berilmu dan bijaksana; beliau cukup memperlihatkan kepada saya bagaimana beliau telah menghidupkan nilai-nilai itu semasa hidupnya.
Perjalanan waktu tadi malam di rumah lama adalah pengingat berharga agar saya senantiasa menjaga nama baik dan meneruskan api semangat kebaikan yang telah Bapak Kolot nyalakan. (**)
Sumber: Disempurnakan Ai

0 Komentar
Menyapa Penulis