![]() |
| sumber: JPNN.com Jabar |
Tiga hari ini masyarakat sekitar Gunung Anak Krakatau dibuat cemas sekaligus resah dengan ledakan gunung yang dekat Selat Sunda tersebut. Ledakannya memicu sebaran abu vulkanik ke wilayah Lampung, Pandeglang, Serang, Jakarta, bahkan Jawa Barat.
Kita sama-sama merasakan hal yang sama, terkena siraman abunya saja begini cemasnya, bagaimana kalau terkena imbas langsung seperti mereka, saudara kita yang jaraknya hanya beberapa meter dari titik gunung?
Lebih berat pastinya.
Sektor ekonomi yang lumpuh. Rumah yang ditinggalkan karena harus mengungsi. Udara yang tercemar. Tangis dan jerit anak-anak adalah sebuah tontonan harian. Lantas, di sana-sini kita melihat tatapan layu mereka yang senasib.
Pemerintah tengah sibuk memberikan instruksi kepada sektor terkait bagaimana menyikapi 'ngambeknya' si Anak Krakatau yang kerap membuat waspada. Terakhir, ngambeknya si anak menimbulkan tsunami pada tahun 2017. Tentu, itu yang menjadi perhatian kita semua.
Sejauh ini, analisis menyebutkan bahwa memang tidak ada indikasi yang mengarah ke tsunami. Alhamdulillah, kita sama-sama meminta kepada pemilik semesta agar dilindungi dari musibah dan tragedi mengerikan lagi.
Namun tetap saja, abu vulkanik masih menyebar karena si anak masih memuntahkan laharnya. Ditambah tengah musim kemarau, abu vulkanik leluasa berterbangan mengikuti alur angin laut. Komentar warga bisa kita saksikan di kanal media sosial. Betapa abu vulkanik membuat kita panik.
Sorban Habib Munzir di Gunung Merapi
Setiap membicarakan letusan gunung, aku selalu ingat kisah sorban Habib Munzir. Konon kabarnya, ketika Gunung Merapi akan meletus, Habib Munzir meminta izin kepada pihak keamanan agar bisa mendekat ke titik di mana lahar tengah bergolak.
Tentu terjadi diskusi alot; bagaimanapun, keadaan tidak memungkinkan. Singkat cerita, beliau diizinkan. Beliau berdoa kepada Allah tidak jauh dari sana.
Setelah berdoa, beliau melemparkan sorbannya. Qodarullah, Gunung Merapi tidak bergolak lagi. Kembali aman, tenang, dan kondusif.
Ibrah
Seperti apa pun keadaan kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan: bersyukur atau bersabar. Dengan adanya abu vulkanik, kita menyadari betapa selama ini kita lupa akan nikmatnya udara. Gara-gara sebaran abu, cukup membuat kita kerepotan. Bagaimana kalau udara itu sudah berganti warna, bukan lagi abu-abu? (**)
Pandeglang, 7 September 2026 21.03

0 Komentar
Menyapa Penulis