Kemarin aku pergi ke RSUD Pandeglang untuk mengantarkan saudara berobat ke salah satu dokter di sana. Berangkat jam sebelas dan pulang pukul tujuh malam kurang sedikit. Lumayan lama menunggu dokter praktik. Satu lagi, tidak pakai BPJS.
Kartu BPJS
Kenapa ini penting aku bahas?
Ternyata, berobat pakai BPJS itu sekarang sangat diutamakan. Pertama datang, yang ditanya pakai jalur apa. BPJS yang ditanyakan. Sebenarnya kami sekeluarga punya, cuma sengaja gak dipakai karena sering mendengar penindakan terhadap pasien BPJS itu kurang bersahabat.
Akhirnya menggunakan jalur umum.
Setelah aku perhatikan, pelayanan terhadap BPJS cukup baik dan bisa dikatakan sama. Malah, bisa disimpulkan bahwa pasien yang hadir mayoritas menggunakan kartu BPJS. Karena banyak, itu harus sabar menunggu.
Bukan karena tidak dilayani dengan baik, melainkan lebih kepada mengatur pelayanan itu agar lebih tertib dan terukur. Semua punya hak yang sama; saling menghormati adalah hal utama yang harus dilakukan.
Misalnya, aku datang lebih awal dari yang lain, ternyata baru dilayani terakhir. Itu sekitar jam 4 sore. Awalnya sempat aneh dan timbul bibit-bibit kesal. Kemudian baru paham, yang lain datangnya akhir, tapi datanya lebih dulu masuk karena sedari pagi sudah mendaftar lewat aplikasi online.
Lorong-lorong rumah sakit
Lorong rumah sakit mengingatkan aku pada emak yang pernah dirawat. Ruangan yang penuh pasien. Keluarga yang membesuk dengan tatap penuh harapan. Kata-kata dokter yang penuh senyuman. Atau ratapan dan tangisan dari mereka yang menangisi kepergian orang tercintanya.
| dokpri |
Sesungguhnya itu sudah 15 tahun lalu. Pengalaman itu selalu membekas, apalagi ditambah dengan cerita emak yang mengalami pelayanan kurang enak dari beberapa pelayan muda. Setelah itu, emak agak trauma kalau mendengar, apalagi diajak berobat ke rumah sakit.
Entah setelah mendengar ceritaku, apakah cara pandangnya berubah?
Di lorong terlihat lebih banyak keluarga pasien. Ada memang sebagian nakes yang terlihat; selebihnya sibuk di ruang kerjanya. Otomatis, sebagian lorong terlihat agak sunyi; kalau kata adik saya, agak horor. Apalagi dilihat di malam hari, ketika kesibukan itu berkurang. Hiks!
Menumpuk di Ruang Depan Apotek
Antrean yang mengular, tepatnya menunggu, ya, di depan apotek. Seluruh pasien yang berobat terpusat menunggu di sana. Dua jam menunggu itu bukan perkara ringan. Apalagi, langit tak lagi cerah; mentari beranjak ke peraduannya.
Di rumah sakit aku belajar arti menunggu sesungguhnya. Sabar, kuat dan agak bosan.
Memahami Arti Sehat
Namanya rumah sakit, melihat orang sakit adalah lumrah. Melihat ibu-ibu yang baru datang dengan kondisi yang lemah. Bapak-bapak yang berjalan tertatih ditemani anaknya. Perempuan sepuh dengan kursi roda menyertai. Atau dua pasangan serasi yang isterinya bertumpu pada tongkat.
Menyaksikan hal tersebut, aku memahami arti syukur sesungguhnya. Sehat itu bukan tentang mereka, tapi sehat adalah tentang diri sendiri. Ketika tubuhmu rapuh, yang paling rapuh sejatinya bukan kamu, tapi orang sekitarmu yang harus menguatkan kamu dan menemanimu agar kembali tersadar.
Ketika mau salat dzuhur, di depan musala aku sempat berbincang-bincang dengan seorang abah yang sedang menemani anak saudaranya yang mau dioperasi hernia. Sudah 5 hari belum ada tindakan.
Tahunya usianya berapa?
Delapan belas tahun! Ya Allah, pada usia yang begitu produktif dan sangat muda, harus dilakukan bedah pada tubuhnya. Aku meraba jiwaku, betapa mahalnya harga kesehatan.
Entah karena merasa akrab atau gimana, setelah iqomat dikumandangkan, aku didaulat jadi imam oleh si Abah. Jama'ah lain mengikutinya. Aku mencoba menolak, tapi keadaan tak memungkinkan. Akhirnya, bismillah, aku memberanikan diri.
Kesan dan Pesan
Baik, dan pulangnya aku naik mobil Maxim. Driver-nya ramah. Sepanjang jalan berbincang-bincang sehingga tak membuat bosan. Apalagi pulangnya beliau menawarkan untuk menjemput kembali. Tentu saja aku mengijinkannya, daripada harus capek memesan atau berjalan lagi ke depan.
Meskipun cukup melelahkan, pengalaman kemarin membuatku lebih aware lagi terhadap kesehatan. Ketika masih ada kesempatan untuk dicegah, kenapa harus menunggu sampai sakit? Ketika sakit masih bisa diobati, kenapa harus menunggu sampai parah dan lemah?
Akhirnya, kita bisa melakukan apa yang kita mampu. Kalau bukan bagian kita, serahkan semua pada ahlinya. (***)
Pandeglang, 12 Agustus 2026 15.09
0 Komentar
Menyapa Penulis