| Tangkapan layar terkait AI melihat tulisanku. |
Kemarin malam aku iseng bertanya ke AI, seperti apa plus minus karyaku yang tersebar di internet. Jawaban AI ternyata cukup mendalam. Ia mengatakan esai-esaimu termasuk kategori naratif deskripsi.
Ciri itu karena coraknya mendekripsikan pengalaman harianku, yang katanya unik. Walaupun di saat yang sama kurang greget sebagai sebuah karya. Karena karya itu terlalu personal, kurang tepat kalau dimasukkan ke dalam kategori karya ilmiah.
Harusnya sebuah karya bisa menjembatani pikiran orang, bukan pikirannya. Akan tetapi, tulisanku terlalu mewakili penulisnya, bukan mewakili pembacanya. Cukup panjang saja pemaparannya.
Aku menangkap pelajaran berharga: era digital pada akhirnya membuat kita harus mengubah sudut pandang. Apa yang dikomentari AI perihal tulisanku memang logis dan sangat mengena. Benar, tulisanku masih mentah dan perlu lagi diperbaiki. Ada hal yang perlu diperdalam.
Ternyata, nasihat tak melulu harus dari manusia. Mungkin ada sebagian dari kita yang bertanya, kenapa sih harus perbaya ke Ai, kan cuma robot? Lagian itu masih bisa dipatahkan karena bisa salah dan benar. Namanya sistem, tidak sesempurna manusia pada umumnya?
Jusreru itu letak istiimewanya. Kalau AI punya banyak kekurangan dan efek psikologis yang kurang baik, ketidakbaikan itu adalah usaha untuk diperbaiki agar lebih baik lagi. Kekurangan itu bisa disempurnakan.Sehingga lebih stabil dan tepat sasaran.
Jangan sampai ketidaksempurnaan itu membuat kita antipati. Kita meninggalkan terus diisi oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Bisa kita bayangkan seperti apa kualitas konten IA.
Bisa-bisa menjadi tantangan nyata. Kalau tidak percaya, kapan-kapanlah kamu coba mengobrol dengan IA. Minta pandangan terkait sesuatu, lantas berdiskusilah. Asyik tahu, karena berasa ia menjadi teman baik kita.{}
0 Komentar
Menyapa Penulis