Dewasa dan Kesibukannya sebagai Manusia

 

sumber: IGruangcerita

Kemarin sore surat pemberitahuan perihal Maulid di kampungku sudah disebar. Isi surat itu kuang lebih acara maulid di kampungku sebentar lagi. Tinggal menghitung hari. Babak baru tugas-tugas yang harus aku jalani.

Kalau dikata lelah, tentu saja. Aktivitas di warung, dengan segala dinamikanya, menguras tenaga dan pikiranku. Belum lagi kalau ada tugas mengisi kajian di grup salawat. Itu juga kalau gak bentrok dengan diskusi sama teman-teman pencinta buku, jadi tambah kerepotan.

Seperti kabar kemarin, perihal kematian adik ipar almarhum kakekku di kampung Seat sana. Kabar itu sangat mengagetkan. Mendadak.

Terbayang aktivitas bentrok. Akhirnya aku tidak bisa hadir ke sana. Seharusnya memang bukan aku yang ke sana. Aku statusnya cucu. Yang pantas ke sana itu anak dari kakek. Dalam hal ini, tentu saja anak yang paling sepuh.

Entahlah kenapa, hal seperti ini selalu dibebankan padaku atau keluargaku. Tidak masalah kalau lagi gak ada kesibukan, berbeda kalau bentrok dengan aktivitas lainnya. Sisi lain, aku memahaminya karena aku yang suka menemani almarhum kakek ke sana. Ya sudah, aku terasa lebih dekat dibandingkan dengan yang lain.

Kabar terkait kematian Mang Esoh, tetanggaku, cukup mengagetkan juga. Baru saja pulang dari pasar, terus olahraga ringan di rumah, lantas melakukan wirid harian. Niatnya ingin tidur melepas penat.

Tiba-tiba Pak RT datang tergopoh-gopoh, berujar,

"Tolong umumkan di masjid, Mang Esoh meninggal," katanya. Orang yang biasa mengumumkan lagi pada gak ada, sedang di acara pernikahan.

Otomatis, aku yang mengumumkan. Padahal itu jadwal istirahatku. Alias tidur. Mana mungkin kepikiran tidur kalau mendengar kabar kematian? Akhirnya kepala terasa pening. 

Aku jadi berpikir tentang semua hal tersebut. Ternyata semakin kita dewasa, kita berhadapan dengan hal yang membuat kita lelah. Buat kita cemas. Buat kita ingin marah semarah-marahnya.

Sebagian orang yang tak mampu mengontrol dirinya akan meluapkan sebebas-bebasnya. Karena baginya itu arti kebebasan. Daripada dipendam terus, jiwa menjadi tertekan. Lebih melelahkan lagi.

Ada lagi yang didiamkan saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Menerima tanpa mau berkomentar. Biasanya yang begini rawan terkena tekanan jiwa. Kalau tidak TBC, ya mudah cemas.

Ada lagi yang bersikap apa adanya. Masalah itu hadir; ia menerima dengan penuh kesadaran. Masalah itu bukan untuk dihindari, apalagi dicaci. Yang ada disikapi dengan sikap dewasa. Memang bawaannya ingin marah, akan tetapi marahnya bisa dikontrol dengan baik.

Fase dewasa menguji kita untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau untuk anak kecil dikenal sebagai tantrum, masa iya di masa dewasa ingin mengalami tantrum lagi? Tantrum fase kedua kah?! Atau hanya alasan ketidakmampuan mengelola diri saja.

Akhirnya, kesibukan dan manusia dewasa adalah dua hal yang sering bersinggungan. Bukan lagi memperdebatkannya, tapi lebih ke bagaimana menyikapinya. 

Aku percaya, tiap orang punya masalah dan beban pikirannya masing-masing. Lepas dari semua itu, tergantung pada bagaimana kita mengelolanya. (***)

Pandeglang, 17 Agustus 2026   22.24

Posting Komentar

0 Komentar