KIAT MERAJUT KELUARGA SAKINAH DI ERA DIGITAL
1. MUKADIMAH (Pembuka)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. Washolatu wasalamu 'ala asyrofil anbiya-i wal mursalin, wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in. Amma ba'du.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan seluruh jemaah kajian rutin yang insya Allah dirahmati, dimuliakan, dan dicintai oleh Allah SWT.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji serta syukur ke hadirat Allah SWT. Atas limpahan nikmat, taufik, serta hidayah-Nya, kita semua masih diringankan langkahnya, disehatkan badannya, untuk berkumpul di majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, teladan sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
2. PENDAHULUAN
Jemaah yang dirahmati Allah,
Setiap kita yang melangkah ke jenjang pernikahan pasti mendambakan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah—keluarga yang penuh ketenangan, penuh cinta, dan sarat akan kasih sayang. Allah SWT bahkan menegaskan tujuan mulia ini dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 21:
Setiap kita yang melangkah ke jenjang pernikahan pasti mendambakan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah—keluarga yang penuh ketenangan, penuh cinta, dan sarat akan kasih sayang. Allah SWT bahkan menegaskan tujuan mulia ini dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً
Artinya: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah)…"
Bapak, Ibu yang dirahmati Allah… perhatikan kalimat 'litaskunuu ilaiha'. Artinya, Allah mendesain pernikahan agar kita mencari ketenangan itu pada pasangan kita, bukan pada hal lain.
Namun, kita harus jujur pada realitas hari ini. Kita hidup di era digital. Tantangan keluarga saat ini bukan lagi sekadar jarak fisik, melainkan jarak hati. Sering kali terjadi fenomena: "mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat." Di dalam satu rumah, bahkan di satu kamar yang sama, suami memegang HP; istri memegang HP. Mereka dekat secara fisik, tetapi pikiran, perhatian, dan hatinya berada di dunia yang berbeda. Ketenangan yang harusnya dicari pada pasangan kini beralih dicari pada layar gawai.
Lantas, bagaimana kiat kita sebagai seorang Muslim untuk merajut kembali keluarga yang sakinah di tengah gempuran era digital ini?
3. ISI KAJIAN (3 Kiat Utama & Dalil)
Kiat Pertama: Hadirkan Waktu Bebas Gawai (Screen-Free Time)
Kiat yang pertama adalah berani membatasi diri. Komunikasi yang harmonis tidak akan pernah tercipta jika mata kita selalu tertuju pada layar. Kita harus ingat hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Kiat yang pertama adalah berani membatasi diri. Komunikasi yang harmonis tidak akan pernah tercipta jika mata kita selalu tertuju pada layar. Kita harus ingat hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu (istri/suami) juga memiliki hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada setiap yang berhak menerimanya."
Keluarga kita punya hak untuk diperhatikan, diajak bicara, dan ditatap wajahnya. Jika untuk ibadah sunah yang berlebihan saja tidak boleh sampai mengabaikan hak istri, apalagi jika kita mengabaikan pasangan hanya karena sibuk bermain game, berbelanja online, atau menonton video pendek.
Oleh karena itu, mari buat kesepakatan di rumah. Misalnya, tidak ada HP di meja makan, atau setelah Magrib sampai Isya HP diletakkan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin pernah menyampaikan bahwa hiburan terbaik bagi hati yang lelah setelah seharian bekerja adalah bercengkerama, mengobrol, dan bersenda gurau yang halal bersama istri dan anak. Mengobrol dengan pasangan adalah penawar lelah yang sejati, jauh lebih menenangkan daripada mencari hiburan semu di internet.
Kiat Kedua: Jaga Pandangan dan Jaga Hati di Media Sosial
Tantangan terbesar era digital bagi suami istri adalah maraknya fitnah, pandangan, dan penyakit membanding-bandingkan. Di media sosial, semua orang hanya menampilkan yang indah-indah. Akibatnya, kita rentan kufur nikmat.
Tantangan terbesar era digital bagi suami istri adalah maraknya fitnah, pandangan, dan penyakit membanding-bandingkan. Di media sosial, semua orang hanya menampilkan yang indah-indah. Akibatnya, kita rentan kufur nikmat.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nur ayat 30-31:
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya... Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya..."
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya... Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya..."
Di era digital, menjaga pandangan bukan lagi sekadar menundukkan kepala saat berjalan di luar rumah, melainkan menahan jempol untuk tidak menggeser (scroll) tayangan yang mengumbar aurat dan menjaga hati agar tidak membandingkan pasangan kita dengan orang lain.
- Untuk para istri, jangan gampang mengeluh atau menuntut suami berlebihan hanya karena melihat kehidupan orang lain yang tampak mewah di dunia maya.
- Untuk para suami, jagalah pandangan dari godaan wanita lain di media sosial. Ingat sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarganya." Syukuri dan muliakanlah istri yang ada di rumah, yang nyata-nyata berjuang mengurus rumah tangga kita.
Kiat Ketiga: Jadikan Teknologi sebagai Sarana Ibadah Bersama
Teknologi itu seperti pisau. Di tangan yang salah bisa melukai; di tangan yang benar bisa membawa berkah. Para ulama kontemporer, termasuk Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi, sering mengingatkan agar kita jangan sampai membangun silaturahmi yang semu dengan orang asing di internet, tetapi menghancurkan silaturahmi yang wajib dengan keluarga sendiri.
Teknologi itu seperti pisau. Di tangan yang salah bisa melukai; di tangan yang benar bisa membawa berkah. Para ulama kontemporer, termasuk Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi, sering mengingatkan agar kita jangan sampai membangun silaturahmi yang semu dengan orang asing di internet, tetapi menghancurkan silaturahmi yang wajib dengan keluarga sendiri.
Maka, balikkan keadaannya. Gunakan gawai kita untuk meningkatkan takwa. Buat grup WhatsApp keluarga untuk saling mengingatkan salat, membagikan potongan ayat, atau video kajian. Hidupkan suasana rumah dengan menyetel murattal Al-Qur'an melalui gawai kita. Ketika teknologi digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, keberkahan dan ketenangan akan turun ke dalam rumah kita.
4. KISAH HIKMAH (Keteladanan Sahabat Nabi)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebagai cermin, mari kita menengok sejenak ke masa lalu, ke sebuah rumah tangga yang paling indah, yaitu rumah tangga putri tercinta Rasulullah, Fatimah az-Zahra, bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma.
Sebagai cermin, mari kita menengok sejenak ke masa lalu, ke sebuah rumah tangga yang paling indah, yaitu rumah tangga putri tercinta Rasulullah, Fatimah az-Zahra, bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhuma.
Suatu hari, Ali bin Abi Thalib pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lelah setelah bekerja keras. Tubuhnya letih, pikirannya penat. Ketika pintu dibuka, Ali melihat istrinya, Fatimah, sedang sibuk menumbuk gandum dengan tangannya sendiri hingga telapak tangannya melepuh dan berdarah. Di sudut lain, anak-anak mereka sedang menangis.
Bapak-bapak dan Ibu-ibu, bayangkan situasi itu. Jika itu terjadi di zaman sekarang, di era digital, apa yang mungkin terjadi? Sang suami mungkin akan pulang lalu langsung duduk di sofa, mengeluarkan handphone, lalu sibuk dengan dunianya sendiri karena merasa lelah. Sang istri mungkin akan mengomel karena merasa tidak dibantu, sambil tangannya sibuk mengetik keluh kesah di media sosial. Rumah menjadi bising oleh ego masing-masing.
Namun, apa yang dilakukan oleh Ali dan Fatimah?
Melihat istrinya yang kelelahan, Ali tidak mencari kesibukan sendiri. Beliau langsung mendekati Fatimah, mengambil alih alat penumbuk gandum itu, dan berkata dengan penuh kelembutan, "Wahai putri Rasulullah, istirahatlah, biar aku yang melanjutkan pekerjaanmu."
Melihat istrinya yang kelelahan, Ali tidak mencari kesibukan sendiri. Beliau langsung mendekati Fatimah, mengambil alih alat penumbuk gandum itu, dan berkata dengan penuh kelembutan, "Wahai putri Rasulullah, istirahatlah, biar aku yang melanjutkan pekerjaanmu."
Fatimah pun tidak tinggal diam. Melihat suaminya yang juga lelah baru pulang kerja, beliau tidak mengeluh. Fatimah segera mengambil air minum, mengusap keringat di dahi suaminya, dan tersenyum dengan senyuman yang paling tulus.
Malam itu, di dalam rumah yang sangat sederhana, tidak ada teknologi, tidak ada kemewahan harta. Bahkan Rasulullah SAW yang datang berkunjung malam itu mendapati pemandangan yang menyentuh hati: Ali dan Fatimah sedang tidur bersama dalam satu selimut yang kainnya kekecilan, jika ditarik ke atas, kaki mereka kelihatan, jika ditarik ke bawah, kepala mereka kelihatan. Tetapi wajah mereka berdua memancarkan ketenangan (sakinah) yang luar biasa. Mengapa? Karena ketika mereka bersama, jiwa, raga, dan perhatian mereka hadir 100% untuk pasangannya.
Fasilitas rumah kita hari ini jauh lebih mewah dari rumah Ali dan Fatimah. Namun, mengapa ketenangan itu sering hilang? Karena gawai di tangan kita telah mencuri perhatian yang seharusnya kita berikan kepada orang-orang tercinta.
5. PENUTUP & DOA
Jemaah yang sama-sama mengharap rida Allah,
Rumah tangga sakinah di era digital tidak tercipta secara kebetulan. Ia harus dijemput dengan kesabaran, kerja sama, serta kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai benda kecil yang ada di genggaman kita merusak istana cinta yang telah kita bangun bertahun-tahun.
Rumah tangga sakinah di era digital tidak tercipta secara kebetulan. Ia harus dijemput dengan kesabaran, kerja sama, serta kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai benda kecil yang ada di genggaman kita merusak istana cinta yang telah kita bangun bertahun-tahun.
Mari kita tundukkan kepala, memohon kepada Allah agar keluarga kita selalu dijaga dari fitnah dunia dan akhirat.
Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad, wa 'ala ali sayyidina muhammad.
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa pasangan hidup kami.
Ya Allah, pencipta hati kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami, suami-suami kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami (qurrota a'yun), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Ya Allah, hiasilah rumah tangga kami dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Jagalah pandangan kami, jagalah hati kami dari fitnah dunia maya. Dekatkanlah hati kami yang renggang, lembutkanlah tutur kata kami, dan jadikanlah gawai serta teknologi di tangan kami sebagai jalan untuk merengkuh rida-Mu, bukan jalan menuju murka-Mu.
Ya Allah, berkahilah sisa umur kami, berkahilah rezeki kami, dan kumpulkanlah kami bersama keluarga kami kelak di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.
Robbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar.
Terima kasih atas segala perhatian bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Mohon maaf atas segala kekurangan. Kesempurnaan hanya milik Allah dan kekhilafan datang dari diri saya pribadi.
Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
0 Komentar
Menyapa Penulis