Bau Sampah yang Menyengat

 

tumpukkan sampah yang menumpuk di Tangerang.

Ketika aku pulang dari belanja di Pasar, tepat di depanku mobil pengangkut sampah tengah berhenti. Mobil itu penuh dengan sampah rumah tangga dan sisa barang yang dibuang para pedagang. Terciumlah aroma yang busuk mendominasi indra penciuman. Tak hanya aku, mereka yang kebetulan melewati pun tampah menahan nafas saat melewatinya.

Sampah itu banyak dicaci karena baunya yang kurang sedap di hidung. Kita enak, hanya menciumnya dari jauh. Tapi apakah kita pikirkan perasaan pembawa truk sampah itu, atau perasaan yang memungut sampah tersebut atau siapa saja yang menjadikan sampah itu ladang usahanya?

Dipikir-pikir, bukannya sampah itu hasil konsumsi makanan kita ya, lantas ada bungkus atau sisa yang tak layak dipakai dibuang. Sebab sifatnya makanan, semakin lama disimpan akan cepat terpapar bakterinya. Lama-lama membusuk tak tersisa. Begitu katanya.

Kalau pada sampah bagitu alergi banget, lantas bagaimana dengan sampah di diri kita yang tak kunjung dibersihkan? Tiap hari memumpuk, bahkan sudah jadi kerak. Jadi karat yang menyatu dalam jiwa, pikiran dan hati kita.

Sampah itu jadi pikiran buruk kita. Sikap tak baik kita. Hal yang membuat kita tidak nyaman dalam berbuat baik dan lama-lama dalam ketaatan. Hati kita seumpama cermin, yang bisa kita lihat seperti apa rupanya. Namun jadi buram karena begitu titik hitam yang kita lakukan. Betapa baunya sampah itu, ya. Wallahu'alam. []

Pandeglang, 29 Desember 2025  00.13

Posting Komentar

0 Komentar