| sumber: muslim.or.id |
Rasanya baru kemarin saya menulis pengalaman puasa di hari ke dua, tiba-tiba sekarang sudah sampai di hari ke 13 rajab. Masya Allah, begitu cepat waktu berputar, bergerak dan berlari yang tak pernah peduli pada siapa yang jeritannya tersakiti, happy atau mungkin lagi iri hati.
Pada hari yang berlari, pada siapa kau memasrahkan diri?
Jawabmu pasti Allah pemilik semesta ini. Pertanyaan berikutnya, kalau benar kamu pasrah pada-Nya, lantas kenapa sebagian hatimu belum sepenuhnya pasrah?
Puasa itu proses olah rasa dan jiwa. Memaknai puasa di bulan rajab ini seharusnya bukan lagi kamu merasa paling suci sendiri. Paling benar sendiri. Paling "nyunah" sendiri. Paling taat sendiri.
Ketika melihat orang lain tidak puasa macam kamu, bukannya kamu berpikir, dia lagi buruk dariku dan aku lebih baik dari dia. Tapi lebih pemakluman dirimu, aku puasa karena Allah masih memberi kekuataan kepadaku. Allahamdulillah, semoga ada hikmah di baliknya.
Kenapa begitu? Karena tiap kita puasa sejatinya tidak mengandalkan kemampuan diri saja. Ada tangan yang Allah utus membantu kita mampu. Tubuh kita mungkin kuat, tapi apa artinya kuat kalau yang kuat justeru tak mampu berpuasa, beribadah dan munajat pada-Nya.
Namun ada saudara kita yang tak kuasa berdiri dan sempurna tubuhnya, dan kondisi jiwa yang kurang ideal. Anehnya, mereka lebih survive dengan itu. Mereka mampu menjaga jiwanya dari kelalaian.
Oleh karenanya, jangan selalu berpikir "aku bisa maka pasti bisa", tapi berpikirlah "aku bisa saat Allah mempermudah kemampuan bisaku". Tugas hamba melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan, bukan orang lain dapatkan.
Pandeglang, 2 Januari 2025 22.47
0 Komentar
Menyapa Penulis