Netizen Melihat Konflik Internal NU



Potret Rais Amm dan Gus Yahya ishlah. (sumber: Kumparan.com)


 Kisruh di tubuh NU sampai sekarang masih jadi sorotan. Meskipun sudah ada kabar islah, tetap saja publik masih menyorot, akan ke mana ujung dari perseteruan di tubuh ormas terbesar di negeri tercinta ini?

Kalau kita lacak, muara keributan ini saat Rais Amm, KH. Miftachul Akhyar memecat ketum NU, Gus Yahya. Sebabnya, ada pelanggaran yang dilakukan Gus Yakut karena menghadirkan pemikir dari Amerika yang pro terhadap zionis. 

Selain itu, ada laporan keuangan di bawah kepemimpian Gus Yahya yang kurang masuk akal. Keputusan ini makin memanas karena pemecatan ini dilihat sepihak dari Rais Amm, bukan hasil keputusan bersama. Tentu saja ini disanggah oleh pihak Rais Amm, tiap keputusan itu hasil kajian bukan tanpa alasan tepat.

Hal uniknya justeru komentar dari netizen yang melihat ini bukan pada "kesalahan di atas" tapi keputusan NU untuk ikutan nambang. Banyak yang masih heran, kenapa kalangan santri ikutan cari cuan di tambang, bukannya ada pihak yang lebih berhak di sana. Lebih paham dunia penuh warna itu.

Apalagi keputusan ini pula menimbulkan kontroversi saat Gus Ulil berdebat dengan salah satu aktivis lingkungan, sehingga lahir istilah Wahabi lingkungan!

Perbedaan pandangan di tubuh NU sebenarnya bukan hal aneh. NU itu dinamis. Kisruh yang terjadi sejatinya ujian. Menguji kedewasaan para pengurus. Meski pun netijen curiga, ada kepentingan semu yang tengah terjadi. Entahlah, kita melihat yang nampak, yang tersembunyi biar itu jadi urusan yang lebih paham NU.

Di banding Muhammadiyah, NU memang kerap terlihat penuh gelombang. Selalu ada saja suara bising terdengar di luar, di dalamnya penuh ombak kepentingan. Berbeda dengan Muhammadiyah yang terlihat adem dan satu suara soal kebijakan pengurusnya. 

Di tubuh organisasi yang lahir di Kauman itu konflik rasannya mudah sekali diredam. Kisruh ringan untuk diselesaikan. Mereka tak terusik tahun politik, hajat para politisi atau tuduhan ada yang bermain di dalamnya. Misalnya soal Muhammadiyah ikutan nambang, sorotan netijen tidak terlalu pedas meskipun sempat pula jadi bahan obrolan. Namanya juga pandangan netizen ya, melihat dari luar. 

Berharap sangat penulis, pastinya kisruh cepat mereda. Pandangan yang berbeda sesama anggota atau simpatisannya bukan ajang menebar konflik yang berkepanjangan. 

Bukan pula kesempatan untuk saling memberi stempel yang kurang enak di rasa. Keduanya mendukung kiprah santri dan menghormati manut ke kiai. Membumikan nilai dan ajaran Islam dengan penuh cinta. Sama, cuma teruji saja langkahnya.  Wallahu'alam. (***)

Pandeglang, 26 Desember 2025   23.41

Posting Komentar

0 Komentar