Diskusi Siang Bersama Kawan-kawan di Pandeglang Book Party

sumber: Grup WA komunitas.

Seru juga diskusi tadi siang bersama kawan-kawan Komunitas Pandeglang Book Party (IBP), setelah sekian lama aku vakum. Bukan vakum habis melahirkan, bukan pula habis ditinggal kekasih menikah, atau ditangkap aparat karena terlalu usil sama rekening gendut para pejabat negara. Bukan, bukan, lah. Biasalah jelata, menguras tenaga dan asa untuk menumpuk rupiah demi masa depan anak cucu. Hihi. 

Melihat anak-anak muda (berasa tua banget aku, ya) yang cerdas pun melek literasi selalu membuat aku terharu. Apalagi melihat langsung dan itu berada di kota sendiri itu seperti oase. Kita perlu bangga, di tengan budaya hedonis dan pragmatisme yang menggerus kesadaran terhadap geliat literasi, masih ada gerakan-gerakan menyentuh jantung akal sehat.

Kalau kata pribahasa, di balik negara yang maju, ada gerakan sadar membaca buku. Artinya, bagaimana buku bisa dijadikan teman. Bisa jadi sahabat. Bisa juga jadi taman menikmati keindahan realitas semesta berserta hiruk-pikuknya. Tentu saja ini luar biasa meski pun geraknya tak terlalu istimewa bila dilihat dari kaca mata matrealis.

Pekerjaan membaca memang berat. Lebih berat lagi karena harga buku lebih mahal dari lima liter beras. Lebih mahal dari harga minyak goreng pula. Apalagi kalau pajaknya terus digoreng meski pun amat banyak penulis terkenal teriak-teriak soal ini. Apalah suara itu, seperti es yang membeku di kulkas Pak Ogah--diperhatikan kalau diperlukan dan diabaikan kalau memang tak lagi ada untungnya.

"Kenapa coba harga buku-buku bacaan di kita amat mahal dibanding negara-negara lain?" Pancing salah satu orang yang hadir.

"Ya, apa? Perasaan anggaran pendidikan kita gedhe, orang peduli pendidikan juga banyak."

"Karena ada orang yang ingin rakyat kita bodoh. Karena bodoh gampang dibodohi. Gampang digiring opininya," ujarnya dengan setengah kesal.

Bahkan, Teh Nisa menambahkan, di negeri jiran tiap pelajar katanya dapat jatah bulanan untuk membeli buku. Di Mesir harga buku juga amat bersahabat. Apalagi di negara maju, buku adalah pasokan utama untuk anak didik. 

Di kita? Entahlah, mungkin butuh waktu untuk pemerintah sadar dan memahami kualitas pendidikan tak melulu soal isi perut, isi dompet dan isi rekening gendut. Ada kalanya soal isi kepala yang perlu dibenahi agar tetap sehat.

Melihat diskusi tadi, aku membayangkan, bagaimana suasana dan serunya perdebatan para pemuda yang akalnya sehat di masa penjajah. Para pelajar itu dituntut waras di tengah kondisi negeri yang tidak sedang baik. Mereka pun menyaksikan kondisi keluarganya pun kurang sejahtera. Ditambah idealisme mereka menggebu.

Bukan hal mudah, putera bangsa yang keadaannya amat sederhana bisa setara dengan para penjajah dan antek yang secara kualitas jauh antara Sabang dan Merauke. Mampu bersaing dan bisa berdebat dengan para kolonial. Gelar pahlawan di antara bentuk penghargaan negara atas dedikasinya.

Demikianlah. Aku tidak bisa merekam dan mencerna obrolan tadi siang, karena arahnya loncat-loncat. Mungkin perlu nanti dibahas ya poin diskusi tadi, dari soal asal usul manusia yang jadi isu menarik di kalangan saintifik juga intelektual dunia. Juga soal teori fiqih sosial, juga paradoks budaya dan isu mental health yang selalu jadi pembicaraan kalangan muda. Atau gerakan fatherlis yang tengah digalakkan, anak-anak butuh sosok bapak dalam kesehariannya untuk menguatkan jiwa dan kepercayaannya dirinya dalam kehidupan. Atau soal teori incess dan teori evolusi Darwin yang menantikan keseruan perdebatan? 

Mungkin nanti, bisa kita lanjut di coretan selanjutnya. Tetap di sini, di ruang manusia ternyata butuh curhat juga. Hihi. (***)

Bonus potret tadi siang.
dokpri.

Pandeglang, 22 Desember 2025    00.16

Posting Komentar

0 Komentar