Puasa Rajab Hari Kedua

 

jember network

Di hari kedua puasa bulan Rajab ini, badan terasa terkoyak-koyak. Lemas macam tak bertulang, apalagi sepulang dari Pasar serasa di lolosi saja. Baru dua hari serasa lama banget. Aku merasa kayak orang yang baru belajar puasa.

Apa mungkin efek tubuh saja lagi agak kurang fit. Apa efek kurang kasih sayang seperti yang ia katakan. Atau memang iman di dada belum semantap dulu sehingga hilang semangat diri?

Puasa tahun ini memang menyimpan pesan, kita tak bisa selalu mengandalkan kemampuan diri kita. Puasa sejatinya ibadah hakiki, hanya yang kita tahu dan Allah menyaksikan kejujuran kita. Kita misalnya, bisa berbohong ke orang mengaku puasa, padahal saat sendiri kita makan sepuasnya.

Di depan orang kita bisa mengaku tetap puasa, padahal itu sebatas pengakuan biasa tanpa bukti. Itu lah kenapa, di dalam hadits yang masyhur puasa itu ibadah yang pahalanya--hanya Allah yang tahu. Tidak disebutkan ganjaran yang bakal didapat, sebagaimana yang masyhur dibahas para alim yang kerap kita dengar.

Mau buka, malu. Anak-anak saja di usianya yang merah pada puasa kok. Lah, masa aku yang sudah besar sampai tidak puasa? Apalagi puasa pertama, kedua dan ke tujuh adalah puasa yang utama dan pahalanya amat menggembirakan. Selama masih mampu, kenapa harus ditinggalkan?

Di Rajab ini mengingatkan aku pada bapak, dua tahun lalu hari ketujuh bapak sepi karena orang-orang lagi pada puasa. Di hari ini pula aku dan sekeluarga pada tidak puasa. Kehilangan bapak kehilangan semangat kami. Kehilangan bapak buat kami antara sadar dan tidak, ternyata bapak memang sudah pergi.

Duh Allah, berkahi kami di bulan rajab, sya'ban dan sampaikan kami di bulan ramadan. Hasilkan hajat kami ya Allah. Demikian petikan doa bulan rajab yang masyhur. (**)

Pandeglang, 23 desember 2025   22.10

Posting Komentar

0 Komentar