Diskusi di Cafe Sanemah pekan lalu itu masih membekas dibenak, terutama mengenai tradisi keislaman yang ada di sekitar kita. Misalnya tahlilan yang serasa memberatkan ahli mayit yang ditinggalkan. Tak jarang demi tercukupi rela berutang pada orang atau warung terdekat. Demi acara tahlil itu harus terkuras uang yang lumayan.
Di kalangan muda dan mereka yang kurang tertarik sama sejarah pesantren, tradisi dan budaya yang hidup di masyarakat kerap dicemooh. Ada yang bilang sudah lagi relevan, ada yang berkata tak lagi punya esensi dan lebih mengatakan itu sia-sia (baca pemborosan).
Realitas seperti ini memang nyata, dan memang bukan hal aneh di belantika pemikiran kita. Sudah banyak buku-buku dan kajian yang membahas hal begini, tradisi dilihat sebagai sebuah hal transaksional. Di Sanemah itu aku diam mendengarkan dengan khidmat, poin apa yang mereka kata dan arahnya ke mana.
Jujur saja aku tertarik mendengarnya langsung bukan sekedar membacanya di buku lagi. Meski pun aku memikul beban karena harus menjawab pertanyaan bertubi-tubi soal tradisi dan kebudayaan dari sisi rasional pun intelektual di tengah ummat sekarang.
Misalnya lagi soal kebiasaan sebagian masyarakat yang suka tabarukkan ke makam-makam wali yang dikeramatkan. Nah, seperti melihat fenomena ini. Apa bisa dibenarkan atau ada alasan yang mungkin belum dipahami oleh mereka.
Jawabanku sederhana, kalau tabarukkan itu hanya sekedar cari berkah apalagi terlalu diwarnai hal mistis, maka ini kurang baik untuk jangka panjang. Sebab, kalau kita belajar pada sepuh-sepuh kita dulu, ziarah adalah penggalian sejarah dan makna perjuangan dakwah.
Kita ingin tahu makanya datang ke sana napak tilas. Bahkan para sepuh kita yang alim tersebut tak jarang kalau mutola'ah kitab atau pelajaran di makam keramat itu. Mereka sengaja menyendiri untuk menggali kedalaman pena ulama sambil ber-wasilah pada wali tersebut.
Sekarang lain lagi, ziarah atau tabarukkan mengarah pada "ladang usaha tetap". Istilah wisata religi pun menggema. Mengunjung situs religi lebih ke rutinitas lari dari kejumudan duniwa. Bisa juga pelarian rekreasi berkedok agama. Banyak kok yang mengaku rajin ziarah ke makam wali tapi tidak siapa wali tersebut dan bagaimana sepakterjangnya.
Ziarah pun sekedar rutinitas tanpa ruh karena dilandasi kepentingan tertentu. Masyarakat kita pun banyak yang alergi atau bahkan memilih diam. Entahlah. (**)
0 Komentar
Menyapa Penulis