Mbah Riyan: Kiai asal Kudus yang Mendunia

 



Di belantika dakwah Nusantara, tengah viral sosok Mbah Riyan. Kiai sederhana asal kudus. Saking sederhananya untuk mencukupi kehidupannya sebagai tukang bangunan. Di sela-sela aktivitasnya itu beliau juga rajin menulis kitab-kitab berbahasa arab.

Selama ini namanya memang luput dari jangkauan publik. Penghargaan di MUI Award menjadi cikal bakal namanya dikenal publik. Undangan bergengsi tersebut seharusnya bisa menjadi batu loncatan untuk mengharumkan namanya.

Namun, beliau lebih memilih tidak hadir untuk menjaga keikhlasannya dalam dakwah. begitu media mengabarkan. Penghargaan itu bukan tanpa sebab. Sebab kiai asal Kudus itu produktif menulis 100 karya dan tahqiq kitab yang sudah menjadi rujukan internasional.

 Mbah Riyan, yang bernama asli Supriyanto atau dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi, patut diacungkan jempol atas karyanya. Keluasaan ilmu tidak membuatnya tinggi hati. Kebesaran nama tidak membuatnya besar kepala.

Alih-alih menampilkan titel kiai-nya itu, beliau tampil bersahaja sebagaimana warga kebanyakan. Beliau menyibukkan dengan karya. Seratusan karyanya itu cukup menjadi jawaban; kualitas intelektualnya bukan kaleng-kaleng.

Hadirnya beliau membuat kita tersadar: di dunia yang penuh flexing sekarang ternyata masih ada orang-orang yang tidak ingin terkenal. Lebih tepatnya, ia dikenal sebagai ulama besar dengan karya yang cukup banyak. Betapa keikhlasan menyeliputi dedikasinya.

Sepatutnya kita merasa malu, lantas bertanya kepada diri kita: kalau kita bisa apa?

Tentu saja tiap orang punya kemampuan berbeda-beda. Kita tak harus menjadi Mbah Riyan untuk dikenal. Sebab kita dan Mbah Riyan adalah dua hal berbeda. Kita hanya bisa mengambil spirit produktivitas di balik karyanya yang telah mengharumkan Bumi Pertiwi.

Apa pun profesi sekarang. Lakukan dengan ikhlas dan lurus. Luruskan niat untuk meraih keridhoan Gusti Allah. Tidak harus berniat untuk dikenal, karena sering kali itu membebani hidupmu.

Kalau kamu pedagang, menjadilah pedagang yang jujur dan baik. Pedagang yang tidak sekadar menumpuk rupiah saja. Akan tetapi, menjadi pedagang yang menjadi inspirasi untuk berbuat kebaikan.

Begitu juga kalau kamu PNS, direktur, pemulung, penjual kaki lima dan asongan sekali pun. Harkat pun berasal dari amalan batin dan fisik kita. Kenyataan ini seyogianya membuat kita lebih bersabar menikmati prosesnya.

Pandeglang, 31 Juli 2026    21.25

Posting Komentar

0 Komentar