Pertemuan Kedua Bimbingan Menulis Konten Budaya dui Oproom Pandeglang


 Ibu Tia sebagai moderator, Teh Desi mc dan Pak Eko sebagai narasumber. Pertemuan tadi lebih santai daripada kemarin. Lebih leluasa juga. Ditambah narasumber memang "agak narsis" sekali sehingga jadi pemicu kelas terasa makin seru.'


Rekan duduk saya—Mang Hilman—dibuat heran, kok Pak Eko tahu isu Sarwendah sampai Juleha segala. Apa sih itu, kumpulan janda Herang, ya? Ikh, geleng-geleng kepala dia.

Bagi saya pemaparan beliau mantap sekaligus ringan dilahap. Ibarat biskuit, itu lembut dan bikin kenyang. Pastinya karena jam terbang tidak bisa bohong.

Pengalaman studi, ragam tulisan yang sudah jadi buku, maupun menjadi pembicara di banyak kesempatan kemungkinan itu pemicunya. Selain itu, bahasa komunikasi beliau yang cair jadi hal lain. Tiga jam lebih serasa satu jam saja.

Pernyataan Beliau yang Saya Sorot

Beliau bilang tradisi di pesantren yang menginduk pada kitab Ta'lim Muta'alim yang populer itu jadi penyebab santri ngesot bahkan memicu kasus pemerkosaan di wilayah Jawa yang dilakukan kiai cabul.

Jujur saja, ini agak mengherankan. Benar ada tradisi ngesot santri ke kiai-nya. Namun, itu bukan di wilayah Banten, apalagi di Pandeglang. Tradisi itu ada di Jawa. Apa pemicunya dari kitab ta'lim? Tidak juga. Saya sudah membaca kitab itu kok. Isinya justru soal akhlak dan kiat menjadi pelajar sukses.


Kitab ta'lim justeru mengajarkan kemandirian. Misalnya, sebelum menjadi santri, kita dianjurkan menggeluti dunia usaha. Agar apa? Katanya, agar nanti tidak kaget dan tergantung pada orang lain. Sejak awal diajarkan berani mandiri.

Di dunia pesantren memang ada problematik. Ini tidak jauh pula di dunia sekolah dan kampus. Saya pikir fokusnya pada akarnya itu.


Itulah kenapa sempat saya tanyakan kepada beliau apa penyebab tingkat literasi di Banten, khususnya Pandeglang, masih rendah. Apa karena kebijakan yang kurang bersahabat, tradisi yang terlanjur melekat, atau gerakan sistematis untuk terus membuat kita bodoh?

Jawaban beliau kurang memuaskan. Terkadang penilaian itu tidak melulu harus bersifat angka. Sebab saya pernah berdebat agak panjang dengan relawan Rumah Dunia. Gara-gara temuan Unesco yang mengatakan tingkat baca orang Indonesia 1:1000.

Mas Gong katanya sangat tidak setuju. Apa dasar juga faktor yang menentukan itu? Sejauh pengalaman beliau sebagai pegiat literasi yang sudah sering keliling Indonesia, minat baca orang Indonesia cukup tinggi.

Beliau juga bilang sudah tidak relevan lagi istilah Ulama dan Umaro sekarang. Herannya, beliau menyarankan Ibu Bupati ketika tersandung persoalan sampah menyarankan datang ke Abuya. Istilah beliau elektro kesadaran.

Hal Lainnya

Saya sempat pula berdiskusi dengan beberapa panitia; berikut juga nimbrung Pak Eko terkait tulisan dan isu seputar konten budaya. Saya mengomentari keresahan Ibu guru dari CMBBS terkait tradisi ziarah yang beliau alami,

Ya, itu hanya tradisi di suatu tempat dan tidak berlaku di daerah lain walau memang masih satu kabupaten. Singkatnya, itu hanya kearifan lokal.

Sempat juga bicara dengan mahasiswa Stisip yang mungil itu, kalau kata teman sebangku, masih belum percaya dia sudah kuliah. Padahal ya, apa sih arti percaya di tengah budaya setia mulai luntur?

Sebangku dengan Kang Hilman

Heboh banget orangnya. Ada saja celetukan beliau. Ramah dan terlihat akrab dengan orang. Tiap dengar namanya mengingatkan saya pada ustaz Hilman, seorang pendakwah yang sering nongol di layar kaca.

Saya justeru agak heran, "kalau ada 10 orang seperti beliau di kelas, pasti kelas selalu ramai. Satu saja begitu apalagi banyak."

Penutup

Besok, semoga baik-baik saja dan acaranya lancar. Selamat malam jum'at bagi yang merayakannya. (**)

Pandeglang, 19 Juni 2026   00.19

Posting Komentar

1 Komentar

Menyapa Penulis