| Ilustrasi diambil di grup literasi. |
Rutinitas lamaku yang sempat vakum kini mulai bergeliat lagi. Yaitu membeli buku.
Membeli buku sudah lama sekali tidak aku lakukan. Semasa sekolah sih, sebulan bisa dua atau tiga kali membeli buku. Itu modalnya menyisihkan uang jajan.
Setelah lulus sekolah?
Masih sempat aku lakukan, karena setelahnya aku ikut kerja di toko ponakan bapak. Setahun kerja di sana cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Kenapa begitu? Apalagi kalau bukan mengoleksi buku. Masa mengoleksi mantan. Gak dong, ya.
Melelahkan karena harus pintar mengatur waktu untuk membaca. Berangkat pagi, pulang sore. Kalau lagi turun barang, pernah pulang malam. Bentrok pula dengan mengajari anak-anak tetangga yang belajar di rumah kakek membaca Al-Qur'an.
Dua bulan ini koleksi buku bacaanku bertambah. Minggu kemarin dua buku Habib Ja'far berhasil di-checkout. Minggu kemarin biografi Cak Nur. Tidak ketinggalan, dua buku Dr. Farudidin Faiz menyapa lebih dulu.
Semua itu sudah cukup membuat aku kerepotan mengatur waktu yang tepat untuk membaca. Antara sibuk dan menyibukkan diri menjadi hal yang problematik. Satu sisi harus punya income agar dapur tetap hidup. Sisi lain harus pula mengolah intelektualisme agar tetap tajam.
Ternyata, makna memiliki itu ada risikonya juga, ya. (**)
0 Komentar
Menyapa Penulis