Melihat Perempuan Berkacamata Itu

dokpri


 

"Mang," perempuan berkacamata itu menyapa. Ketika aku di motor pulang dari belanja di pasar, pagi tadi.

Dengan baju krim, tubuh tinggi, kacamata bentuk silinder dan mushaf di dada, ia tersenyum. Menyapa karena tidak sengaja bertemu. Ia baru keluar lingkungan pondok puteri dan aku di seberang jalan. Saling tatap muka. Sepertinya ia baru beres dengan setoran hafalannya. Atau mungkin tahsin bacaan ayat al-Qur'annya agar lebih baik lagi.

Mushaf yang didekapnya cukup jadi jawaban. Ia menikmati aktivitas itu. Tentu saja aku kagum. Alumni pondok modern sudah selesai strata 1 dan punya kesibukan di usaha keluarganya, masih menyempatkan belajar mengaji ayat suci. Kalau bukan rajin, pasti semangat belajarnya tinggi.

Apa aku jatuh hati? Aku meraba dada. Tak terdengar detak kencang, tak ada getar rindu. Seperti biasa saja. Ya, aku hanya kagum dan tidak jatuh hati. Hatiku sudah terlanjur jatuh pada perempuan sederhana di Jawa sana.

Atau mungkin belum saja, ya. Bisa-bisa saja, rasa biasa itu akan tumbuh dengan caranya. Merayap bagai ulat. Merasuk bagaimana angin. Menyatu dalam getar. Ya, semua ada prosesnya.

Sepertinya tidak usahlah. Terlalu lelah bermain hati itu. Cukup jatuh hati pada anak orang dan aku belum mampu menyusulnya ke dalam impian dua sejoli normal. Aku tak ingin berandai-andai. Tiap melihat perempuan bening dikit, kok pengennya menebak-nebak, apa iya separuh hatiku yang patah?

Terlalu lama sendiri kadang serba salah. Karena merasa sendiri, akhirnya bebas berimajinasi dan mengejar apa yang diinginkan. Jatuh ke satu hati terus pindah ke hati lain yang dirasa cocok. Setelah cocok, menunggu restu. Terus merencanakan ke jenjang serius. 

Kalau terjal-jalannya, ya mogok di jalan. Kalau gak sabar, ya pisah dengan segala kenangan yang ada. Ia yang dipinang orang duluan atau mengejar mimpinya yang terjeda karena hadirnya aku di hatinya.

Ini berbeda dengan mereka yang sudah punya pasangan. Pikir dan ingin mereka tak boleh lagi coba-coba bermain hati. Hati mereka sudah dimiliki. Menjaga itu harus jadi sumpah mati. Apalagi hubungan itu diikat dengan kalimat atas nama Allah, makin berat tanggungan moralnya.

Urusannya bukan lagi dunia; sudah menjangkau akhirat. Hal ini jadi keuntungan bagi yang sendiri karena bagaimanapun mereka punya kesempatan untuk terus mencari prinsip seperti apa calon ibu untuk anak-anaknya.

Selama ini aku bersinggungan dengan perempuan hebat dan mereka sangat perhatian. Pernah bersama mereka itu anugerah. Dengan itu aku belajar arti tulus, setia, kasih, rindu dan saling percaya.

Sampai hari ini memang belum ada yang sampai di jenjang serius, jadi kalau ada orang yang bertanya kapan menikah, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata: semua ada waktunya.

Klise sih jawabannya, ya mau gimana. Takdir itu bukan wewenang kita sebagai hamba. Kita hanya ikhtiar semampu yang kita mampu. Urusan itu terjadi atau gagal tergantung pada hak prerogatif Allah. Penguasa alam semesta dan hal njelimet di baliknya.

Ah, perempuan berkacamata, kamu buat aku ingat dia di sana yang tengah memantapkan hafalannya. Dia yang bertahun-tahun menghiasi obrolan harian di layar segi empat ini. Ya, si bungsu yang belajar kuat dengan kenyataan pahit di depannya.

Kamu tahu, aku sayang dia. Nitip rindu buatnya. Semoga
baik-baik saja dan lancar proses belajarnya. Sehat dan bahagia di sana. Amien. (**)

Pandeglang, 27 Juli 2026  23.27

Posting Komentar

0 Komentar