Ketika Kita jadi Aku dan Kamu

 

sumber: Kompasiana.com

Kabarku baik-baik saja.

Semoga kamu juga tetap baik, ya. 

Meski jarak begitu jauh memisahkan kita, aku yakin di dasar hati tetap ada tanya dan perhatian yang ingin kita sampaikan. Namun, semua terhalang karena kini kita telah jadi aku dan kamu. Kalimat kita terpisah oleh pemisah yang membentangkan kita pada diam.

Kamu tahu hati yang terluka? Itulah hati yang beku oleh kesadaran. Syukurnya, kita tidak, karena kita terpisah oleh sikap dan pilihan, bukan oleh sikap untuk saling menyayangi. Tapi untuk saling memahami, menyamakan bersama itu sama membunuh, maka lari dari kata bersama lebih baik daripada terus memelihara tapi terus bertanya, kapan dan kapan akan kamu pastikan aku jadi tubuh yang sama denganmu.

Orang bilang cinta sejati itu seperti hantu. Banyak orang yang membicarakannya, tapi hanya beberapa orang saja yang bertemu dengan hantu itu. Benar, begitu pula kata cinta sejati itu. Banyak orang membicarakannya, tapi hanya sedikit orang yang mampu menjalankannya dan menanggung risikonya.

Bukan tidak tahu, tapi saking susahnya. Ada harga yang harus ditanggung; semua itu tidak cukup dengan kata cinta dan setia saja. Harus ada sikap menanggung semua rasa pahit bagaimanapun ujungnya: lelah atau pasrah.

Aku tertarik mengulik kisah cinta seekor penyu yang bagaimanapun jauhnya dia berkeliling samudra, tetap kembali ke samudra yang sama yang mempertemukannya dengan betina yang mengasihinya. Ia kembali pada tema hatinya. Pada jiwa yang membuat jiwanya teduh. Pada sosok yang membuatnya aman. Pada hati yang membuat terus hidup. 

Sejauh itu, seekor penyu memaknai kata cinta sejati. Sedangkan kita manusia, yang katanya makhluk sempurna, kadang masih terkecoh oleh kata dan prinsip, tapi soal kesetiaan dan keteguhan kalah. Kita selalu ingin ceria, senang, dan memiliki kepastian saat ada ketidakpastian. Kita memilih pergi. Dengan begitu, kita pikir semua akan baik-baik saja.

Padahal semua belum ada kata akhir, maka ketika pergi akan ada lagi pengulangan yang mungkin akan diungkit pada masa lain. Zaman lain yang mungkin kita sesali. Setidaknya, kita gagal memaknai kata kontradiksi dan ketulusan berjuang.

Semua memang masih gelap dan masih penuh tabir. Kita tidak menebak ke mana lahirnya pelabuhan kapal masa depan. Kita hanya dua manusia yang tengah mengikuti pelatihan di samudra yang tak berujung. Setidaknya itu yang kita kira.

Maka kita mencari makna-makna agar tidak terebak kebosanan di tengah samudra. Kita pun tahu ada banyak kemungkinan yang terjadi, misalnya saat kita bersama Samudra berakhir, kita sampai di ujung daratan. Tapi kita menyangka-nya. Kita berpikiran, selama bisa bersama, kenapa harus dipersoalkan.

Pahit memang soal kisah cinta itu. Hanya sebagian orang yang mampu merobek maknanya. Hanya sebagian orang yang peka. Dan sebagian saja yang mau menggalinya dengan pisau analisis kritis. Selebihnya berpusat pada kata ketidakpastian. Itu lebih baik daripada kebersamaan, bertahan dari semua ketidakhadiran. Entahlah, mana yang benar. 

Sekarang arah pelabuhan kita berbeda karena kapalnya berbeda pula. Mungkin ini kata terbaik: saat kita sudah menjadi aku dan kamu yang terbaik adalah saling mendukung. Semoga tidak ada kata luka yang menganga. Semoga yang ada adalah keluasan jiwa untuk menerima kenyataan di depan kita. (**)

Pandeglang, 26 April 2026   22.09

Posting Komentar

0 Komentar