| Momen foto bersama sebelum pamit pulang.(dokpri) |
Siang kemarin kami silaturahmi ke rumah kediaman Kiai Jurais, dai muda asal Kramat Watu, yang bakal menjadi pembicara di acara Maulid Nabi di kampung kami, 29 Agustus 2026. Poinnya mengundang secara resmi mewakili masyarakat Tegal. Beliau ramah menyambut kami. Tak kurang dua jam berbincang-bincang.
Di sini, perlu kiranya saya menjelaskan kenapa kiai muda dari Kramat Watu itu terpilih dan bagaimana prosesnya. Hal ini perlu diterangkan agar pembaca tidak mengalami miskomunikasi dan bertanya yang menggelayut di istana jiwa. Sudah menjadi kewajiban tugas panitia pelaksana untuk memberi penjelasan.
Di akhir bulan Maret, Pak RT datang ke rumah untuk mengonfirmasi siapa kiai yang bakal dipilih untuk jadi penceramah di acara maulid nanti. Sebelumnya, kami memang sudah menyebarkan list nama-nama kiai yang masuk radar ke masyarakat dan membuka masukan bila ada dari warga yang punya nama kiai untuk jadi pertimbangan panitia.
Ada tiga nama yang masuk dalam pertimbangan panitia. Kemudian ada satu nama yang diajukan sepuh, yang katanya disarankan warga yang siap "menanggung biaya" si penceramahnya. Panitia tentu saja terbuka hati untuk menerima. Kami pun menunggu aksi nyatanya.
Namun, sampai akhir Maret kemarin tak ada jua kepastian akan keinginan tersebut. Akhirnya kami sepakat untuk mencari kiai lain. Di tengah obrolan itu ada Mang Sarif, tetangga saya yang punya riwayat nyantri cukup lama. Kami tanya-tanya berapa budget list kiai yang kebetulan pernah mengaji di sana.
Namun ia bergeming, gak tahu katanya. Di sela obrolan itu justru ditawarkan bahwa ada beberapa teman mondoknya yang sudah terjun di dunia dakwah. Singkat cerita, terpilihlah nama di atas itu.
Silaturahmi ini pada tahap ketiga tinggal menunggu waktu saja. Waktunya memang masih lama, namun setidaknya kami punya tiket untuk tidak ribet mencari kiai lagi. Tinggal fokus pada hal lain yang bisa dikerjakan.
Sepanjang jalan itu, saya menyaksikan bangunan pencakar langit dan arus mobilitas kesibukan orang. Saya merasa kecil sekali. Apalagi saat melihat teritorial markas Kopassus yang begitu luas dan amat gagah. Citra menantang amat menonjol.
Sosok aku seperti lebur di antara luasnya ciptaan Allah Maha Kuasa. Siapa sih aku yang sering merasa besar dan tinggi hati? Padahal, saat kamu tergeletak di jalan dan terlunta-lunta, apa ada orang yang mengenalmu dan menghormatimu seperti apa yang kamu pikirkan? Sepertinya tidak. Aku tetap saja manusia biasa yang merasa besar hakikatnya penuh kehinaan.
Sebab orang besar tidak mengharapkan penghormatan. Apalagi mengemis kemuliaan orang. Hanya orang hina yang merasa besar dan berpikir dirinya lebih mulia daripada orang lain. Akan tetapi, lupa, Allah melihat hati dan ketaatan manusia, bukan pangkat dan rasa besar dirinya itu.
"Ada yang pernah bertanya ke saya," kata kiai muda itu, "kenapa Baginda Nabi dirayakan di hari lahirnya, sedangkan kita di hari akhirnya. Dipikir-pikir, ya juga. Kenapa di kita perayaan justru di hari di mana kita wafat. Jangankan kita, sekelas Syaikh Abdul Qodir saja diperingati di hari wafatnya."
Ternyata jawaban itu ditemukan di kitab Syaikh Abdul Qodir, yang mana, kata beliau, karena amal kita biasanya memang ditentukan di akhir hidup kita. Kalau akhirnya baik, semoga aslinya baik. Akhirnya ketemu di kitab-kitab lagi, pungkasnya.
"Asal jangan kayak buah pisang saja," kata Pak RT menimpali.
"Memang kenapa, Pak RT?" tanya dai muda itu, penasaran.
"Buah pisang itu, atasnya saja yang bagus tapi ujungnya (butitina) jelek, makanya orang pada gak mau," ujar Pak RT yang diaminkan yang lain.
"Namun, walau pun ujungnya buah pisang itu jelek, tetap saja itu pisang. Itu seperti kita: bagaimana keadaan kita, ummat Nabi, tetap saja bakal masuk surga. Walaupun penuh dosa dan dibakar di neraka, tetap bakal masuk surga karena kita umat nabi."
Oleh karenanya, tradisi maulid sebenarnya wasilah kita untuk menggali lagi makna cinta dan rasa tahu kita dengan jalan juang Baginda Nabi. Ulama menganjurkan karena sekelas Sayidina Abu Bakar saja sering mengulang kisah heroik Nabi berjuang menegakkan izzah Islam kepada generasi muda masa itu.
Padahal zamannya Abu Bakar adalah khoirul qurun, kata Nabi. Terus bagaimana zaman kita sekarang, yang terkadang jalan hitam lebih berwarna di balik jalan putih yang diwariskan para leluhur kita. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 11 April 2026 21.26
0 Komentar
Menyapa Penulis