Sore ini hujan baru saja turun. Hujan memberi kesejukan. Kesejukan itu menyisakan kelabu ditambah sesekali petir bersuara di langit sana. Ada apa dengan gelap, tanyaku di sela membaca kitab Tanbihul Gofilin yang belum kelar.
Kitab ini yang beberapa hari mengisi hariku. Kitab yang ditulis ulama kelahiran Iskandaria Mesir ini memang menarik. Mengupas tema-tema yang akrab dengan kita, bisa dikatakan kitab akhlak. Baik akhlak kepada manusia, terutama kepada Gusti Allah.
Imam Ibnu Laits nama yang amat familiar di kalangan ahli ilmu. Ulama kita sering banget mengutip tulisannya. Aku sendiri baru sampai di bab minum keras. Menurut musonif, ummat islam ijma bahwa minum keras itu haram.
Para sahabat sendiri sering mewanti-wanti agar menjauhi minum keras karena minum tersebut pangkal kerusakan. Di kisahkan bahwa dulu ada ahli ibadah yang masyhur ketaatannya dijebak oleh seorang perempuan cantik.
Perempuan melakukan tipu muslihat agar laki-laki itu masuk ke rumahnya karena ada kepentingan pentingnya. Ketika masuk ia menyuruh budaknya untuk mengunci laki-laki lantas mengancam ahli ibadah itu agar berziana dengannya. Tentu saja ia menolaknya.
Perempuan itu tak kehabisan akal, ia mengancam akan berteriak agar orang mendengarnya bahwa ada laki-laki masuk ke rumahnya mau mencuri. Perempuan itu menawari dua pilihan kepadanya: meminum air keras atau membunuh anak kecil di depannya.
Setelah menimbang, ia pikir minum air keras lebih kecil bahayanya. Namun setelah itu ia melakukan tiga dosa: minum khomar, zina dan membunuh anak kecil itu. Semua berawal dari meminum air keras itu sehingga jadi pangkal dosa-dosa lainnya karena kehilangan akal sehatnya.
Ini di antara cerita dari cerita lainnya yang tersaji indah di kitab pegangan kalangan santri tersebut. Ada mutiara begitu tersedia di sana. Sayangnya belum khatam saja itu kitab ya, padahal renyah isinya. Macam sukro ada kriuk-kriuk-nya.
0 Komentar
Menyapa Penulis