| sumber: Sound Cloud |
Suatu saat kamu akan sendiri. Nasihatilah dirimu agar tidak terlalu terikat pada kebersamaan. Ajari jiwamu agar tidak terlena oleh pujia-pujian yang membuatmu besar diri. Merasa berarti dan merasa memiliki semua yang mungkin belum orang dapatkan.
Kamu memang percaya kepada Allah sebagai Penguasa alam dengan segala isinya. Tapi kamu tidak bisa menipu diri. Kamu selalu ragu dengan semua langkahmu. Di depan orang, kamu mengaku tegas. Kuat dan penuh kharisma. Di kesendirian malam yang akut, kamu seumpama tupai yang tak memiliki energi. Kamu lemah dengan topeng yang terus dipasang.
Wahai diri, kenapa kamu merasa spesial?
Apa karena sedikitnya ilmu yang kamu miliki? Apa karena pangkat yang kamu dapatkan? Apa mungkin paras dan tubuh indah itu yang kerap membuat orang terpesona lagi terpukau sehingga jadi dirimu yang kerap haus pujian? Sekalinya ada orang yang mencela dan mengkritik kamu, jadi kalap, seolah setengah bumi terkena gempa berkekuatan tinggi?
Ada apa dengan dirimu? Apa yang kamu cari di bumi yang sementara ini? Bumi yang al-Qur'an menyebutnya mata'ul gurur. Kata itu jelas sekali mengindikasikan bahwa semua urusan dunia yang tak mau kuatkan dengan tujuan akhirat hanya belenggu yang akan menjerumuskan kamu ke labirin penuh pekat.
Tidak sadarkah kamu bodoh? Ya, kamu bodoh. Merasa tahu banyak hal atau bahkan merasa tidak tahu, tapi tak tahu bagaimana mengobati rasa tidak tahu itu. Kamu tahu luasnya ilmu Allah, terus bagaimana caramu untuk mencari tahu?
Mungkin kamu beralasan. Mereka kan memang punya uang? Mereka punya waktu luang? Mereka memang kecerdasaannya di atas rata-rata dan bla-bla. Ada saja sebab dan ribuan alasan yang kamu ujarkan.
Padahal kalau harus kamu akui, kamu punya banyak sarana yang dapat kamu dapatkan. Ilmu itu bisa kamu dapatkan di hape-mu. Bisa kamu dapatkan dari tulisan-tulisan yang tersebar gratis di layar sosial mediamu. Lewat buku atau sarana lain yang amat terbuka.
Tapi selalu ada alasan yang kamu gunakan. Apa yang ingin kamu, jiwa, kelak akan membusuk di lubang yang hanya beberapa meter tinggi dan lebarnya? Untuk perilaku dosa dan huru-hara, ada saja pembenaran yang kamu gunakan. Katanya demi ini, katanya demi itu. Selalu ada alasan semu yang kamu gunakan.
Ingatlah nanti, di masa saat mulutmu terkunci, lantas tanganmu, kakimu, dan bagian tubuhmu berbicara mendakwa kamu. Di saata itu, di hadapan Mahkamah Tinggi yang tidak ada kedzaliman di sana, kamu akan diminta mempertanggungjawabkan. Apa yang kamu lakukan, pikirkan, dan telah rencanakan akan diminta pertanggungjawaban.
Jangan merasa bebas dan aman. Begitu banyak orang tergelincir karena aman. Padahal aslinya kamu sedang ada di tebing yang tinggi dan amat curam. Goyah saja sedikit, alamat namamu tinggal nama di kertas ijasahmu. Oleh karenanya, jadilah dirimu yang menjaga dirimu dari jilatan api neraka.
Pandeglang, 22.51 23/5/2026
0 Komentar
Menyapa Penulis