Loper Koran yang Aku Kenang

 

Gambar hanya ilustrasi. Sekilas tampilan mejanya agak mirip. (Sumber: Tribunnews)

Ketika membeli ikan di pasar, aku bertemu dengan seorang penjual koran keliling. Ia kini tidak lagi menjual koran, tetapi beralih profesi. Seperti kita tahu, beralihnya era kertas ke era digital berpengaruh signifikan terhadap dunia penerbitan. Oplah berkurang drastis. Oleh karena itu, gerus dan tergerus adalah sebuah dinamika yang tak bisa dihindari.

"Bos saya sudah meninggal," katanya.

Maksudnya ialah agen koran dan majalah di kota Pandeglang. Aku tahu beliau karena dulu sering berlangganan membeli majalah mingguan dan bulanan. Tiap ada edisi terbaru, rasanya senang sekali memilah mana topik menarik untuk dibaca. Orangnya ramah juga baik. Tidak sungkan kita bertanya-tanya, bahkan menawar harga.

Aku ingat betul, tiap hari sengaja mengumpulkan uang jajan. Seminggu sekali sepulang sekolah datang ke lapak beliau untuk membeli majalah Islam terbaru. Sedangkan untuk edisi bulanan, selain membeli majalah, juga membeli buku bacaan di toko buku tak jauh dari sana.

Kenangan itu masih lekat sekali. Sesekali berbincang dengan beliau soal peminat buku di Pandeglang, dan memang dari dulu tidak terlalu menggembirakan. Setahuku, agen di Pandeglang yang bisa dikatakan besar cuma beliau. Kabarnya itu pun dikirim ke Lebak.

Sekarang beliau sudah pulang ke alam baqa. Semoga ikhtiar beliau menebar majalah dan koran bagian dari mencerahkan masyarakat soal literasi. Menyadarkan betapa pentingnya aktivitas membaca, karena dari sana kita bisa tahu dan memahami banyak hal dengan lebih luas. 

Pantas saja, kalau aku lewat lapak beliau sudah tidak melihat lagi tumpukkan koran dan majalah di meja. pastinya tak pernah beliau ada di sana. usut punya usut beliau memang sudah khuruj di alam dunia ke alam barzakh.

Semua punya masa dan batasnya. Seperti kita sekarang, masih bernapas lega dan sehat menikmati keindahan dunia. Jangan lupa, semua ada batasnya. Ketika kita tertawa, ada saatnya menangis. Ketika sekarang terpuruk, akan saatnya jaya. So, tetap eling akan akhir hidupmu. Perbanyak bekalnya agar manis hasilnya. Wallahu'alam. (***)

Pandeglang, 3 April 2026  21.35

Posting Komentar

0 Komentar