| Sumber: situstulus.com |
Dalam kamus cinta Rasulullah, semua bermuara pada memberi dengan ketulusan. Kamu memberi kasih dengan penuh rasa. Bukan karena dia punya ini dan punya itu, tapi murni karena memang—di matamu—layak dicintai. Oleh karena itu, ketika kamu memberinya cinta apa adanya, kamu tidak akan khawatir dikhianati.
Katakan dengan semua pengorbanan dan perjuangan yang kamu lakukan, dia bermain hati dengan hati lain. Tentu kamu terluka. Itu sungguh wajar, karena siapa sih yang ingin tersakiti? Apalagi kita sudah mati-mati berkorban untuknya.
Namun, kamu harus tahu, ketika dia menyakiti kamu dan nyata bermain hati dengan hati lain yang baru, sesungguhnya hatinya bermasalah. Perusak itu dia, bukan kamu. Pemberi petaka itu dia. Asal kamu sudah memberi dan memperjuangkan selayaknya para pecinta yang memberikan.
Aku sering melihat betapa banyak orang yang patah hatinya dan kehilangan kesadaran karena mereka terluka oleh dia yang amat disayanginya. Dia tidak percaya. Kenapa orang yang disayanginya bisa begitu tega:mengiris jiwanya dengan pisau karak tak nampak. Itu di saat kamu tidak berdaya dengan kenyataan.
Padahal kamu sudah di jalan yang benar, mencintai dia sebagaimana pecinta sejati memberikan segenap rasamu. Setia seperti para ksatria patuh pada janjinya. Perhatian sebagaimana ibu rahimu memberikan ketulusan tanpa meminta balas budi. Saat luka ia robek, percayalah, Allah tengah memberi jalan terindah. Rahasia di antara jutaan yang tertutup kabut kepandiran kita.
Bukan harus kamu tanya kenapa dia melakukan itu. Tapi, bertanyalah apa rahasia Allah di balik ini. Kamu yakinkan dirimu. Ini terjadi di bawah kuasa-Nya. Semua atas kehendak-Nya. Sakit memang, tapi itu jauh lebih baik daripada nanti saat semua bangunan lebih kokoh daripada sekarang.
Beruntunglah sekarang, saat batu-bata itu belum terlalu kuat menajam di bumi harapmu. Kamu bisa bangkit. Kamu masih bisa berdamai dengan pembelajaran di balik luka tersebut. Ingat, yang salah dia, bukan kamu.
Kuncinya di paragraf awal itu: kamu mencintai dia karena apanya? Karena hal-hal semu dan hal receh yang sering ditampilkan konten-konten medsos itu kah? Standarmu yang viral di tiktok atau IG kah? Kalau ya, selamat datang di duniamu yang penuh penyesalan dan kecemasan.
Dunia ini terlalu singkat kalau terus kamu ukur dengan perkara duniawi. Mungkin dia sekarang berada, tapi akan saatnya dia nanti serba kekurangan. Mungkin sekarang dia lengkap dan sempurna fisiknya dengan keindahan, tapi ada saatnya itu akan penuh kerut nyata di sisa-sisa indah masa mudanya. Mungkin dia cerdas, pintar dan berwibawa, tapi akan saatnya dia pikun dan papa nantinya.
Berpikirlah sekarang. Pahami sekarang . Mencintai itu sesungguhnya tentang memberi setulus dan seputih yang kamu bisa. Bukan berpikir tentang apa yang bisa dia berikan dan perjuangkan. Sebab ketika rasa itu bertaut, para pencinta tidak perlu diajari soal perjuangan dan bagaimana harus berjuang.
Dia yang mencintaimu memang tidak sempurna, maka saat ini nasib hidupmu tidak secerah orang lain. Orang terkasihmu tahu itu dan menyadari semua. Jangan paksa dia untuk semua inginmu yang berat di jiwanya. Beri terus doa dan kekuatan semangat padanya. Lihat kisah dan cerita cintamu, bukan cemas oleh ujaran orang yang memang tidak peduli dengan bahagiamu.
Semoga hatimu lekas sembuh dari curiga dan cemas yang membuatmu galau. Sampai lupa, lebih banyak orang yang mencintaimu dan menyayangimu daripada orang yang membencimu. Al-Qur'an mengajarkan bahwa setiap kita berpindah dari surat ke surat selalu diawali dengan basmalah. Hanya di satu surat tidak dianjurkan, karena masa itu kecamuk perang lagi panas-panasnya.
Artinya, semua diawali oleh pikiran dan pemahaman kita soal cinta itu. Wallahu'alam. (**)
Pandeglang, 20 April 2026 23.19
0 Komentar
Menyapa Penulis