Menginjak Kabut di Pagi Hari dengan Jogging

 

Suasananya kurang lebih begini. (Tribratanews.polri.com)

Tiap pagi sepulang berjamaah subuh saya jalan-jalan santai ke ujung kampung. Sekitar pukul 5.20 WIB, langit masih gelap, jalan masih lengang dan rumah-rumah masih senyap dari aktivitas. Saya berjalan dengan santai sambil mengumandangkan sedikit hafalan kalam suci, atau membaca salawat, atau justru diam menikmati kesendirian.

Di awal yang gelap itu saya berjalan, terkadang berlari-lari. Ada kadang bulu kuduk naik, maklum waktu masih gelap. Namun, otak saya langsung berkomentar: ah, mungkin perasaan kamu saja

Atau kadang komentar, terutama kalau kebetulan membaca kalam suci: Ah, bagus, justru itu dakwahmu pada makhluk halus lain, semoga saja terketuk imannya, kalau ia kafir, kalau tidak, semoga bertambah imannya.

Ini mengingatkan saya kepada Nabi. Ketika Nabi di suatu lembah membaca ayat suci di dalam salatnya, ada makhluk jin yang terpesona dengan bacaan Nabi. Saking merdunya ia mendengarkan dengan khidmat, bahkan sampai makhluk Islam berkah bacaan kalam ilahi itu.

Tentu terlalu jauh mengukur bacaan saya dengan Nabi. Namanya harap ya, semoga, kalau pun tidak, setidaknya saling menghormati. Aku kan cuma jogging dan mengulang apa yang aku coba biar hafalan itu makin mantap. Jujur saja, saya termasuk orang yang lemah dalam menghafal, apalagi mempertahankan hafalannya.

Berjalan pagi itu tidak lama, terkadang 20–3 menit. Langsung pulang untuk mandi dan tadarus satu atau dua lembar, setelahnya menata barang jualan di rumah sambil menghidupkan komputer dan mendengarkan berita terkini di TV One. 

Aktivitas ini tengah saya usahakan dan rutinkan. Niatnya sih, ingin tetap bugar. Kalau bugar, kan enak untuk aktivitas dan ibadah. Apalagi akhir-akhir ini saya lagi belajar mengubah mental lemah saya untuk berbicara di depan khalayak. Misalnya, kalau jadi imam, saya masih deg-degan dan merasa bacaan saya kok belum maksimal. Ini sering jadi bumerang.

Di usia saya yang masih muda ini, saya merasa banget dianugerahi amanah-amanah yang cukup berat. Sebagai orang biasa, saya takut banget terjerumus ke dalam bangga diri dan sombong. Merasa diri paling baik dan lupa daratan. 

Merasa paling mulia sampai menghinakan orang lain yang di mata saya lebih rendah, padahal masalah rendah atau tidaknya seseorang tidak diukur sebagaimana kita mengukur diri kita, tapi diukur oleh ukuran yang Allah tentukan. Itu kita belum tahu hakikatnya.

Meski pun begitu, saya masih merasa memiliki tantangan hidup yang perlu saya hadapi. Di masa muda ini, saya tidak ingin kalah oleh tatapan sinis dan ujaran yang membuat saya patah. Itu memang ada, tapi saya ingin meyakinkan diri saya bahwa semua itu hanyalah sandungan untuk diri saya yang lebih baik. Bukan membuat saya terpuruk dan kalah. 

Untuk apa saya terlalu jauh memikirkan, toh, itu anggapan mereka, bukan hasil upaya diri saya. Saya tak ingin lelah oleh kata-kata tokoh; saya ingin berdiri dengan pikiran, semangat, dan langkah pasti. Saya ingin menikmati anugerah yang Allah berikan dan melaksanakan amanah itu dengan sebaiknya.

Olahraga pagi itu suntikan untuk diri saya, walau pun kadang malas dan terasa banget mengantuk. Sudah kebiasaan sih tiap pagi tidur karena di sisa malam terlalu larut untuk tidur. Adalah wajar untuk tidur setelah subuh. Namun, sekarang yang begitu tidak saya toleran. Saya belajar untuk hidup sehat dan produktif.

Bangun pagi dan beraktivitas selayaknya orang hebat: menyegarkan pagi dengan langkah pasti dan mengisi dengan amal-amal penuh berkah. Semoga tetap istiqamah, ya. (***)

Pandeglang, 25 April 2026   22.35

Posting Komentar

0 Komentar