Tiga Hari Setelah Lebaran Fitri

 

sumber: Pojok Bogor

Sudah tiga hari Idul Fitri menjauhi kita. Sesuatu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya pergi lagi, melupakan kebersamaan yang terkenang. Padahal amat lama menanti, namun begitulah sikap kehidupan, berputar sebagaimana titah Ilahi pada mentari. Berputar sebagai hukum alam.

Lepas dari semua itu, makna dan pesan apa yang bisa kita ambil di momen istimewa itu?

Kalau aku, ini momen muhasabah diri.

Ramadan itu pelatihan diri agar berkualitas. Menghindari diri semampu yang maksimal kita lakukan dari dosa dan pikiran-pikiran jahat. Pada kenyataannya, mudah berkata, tapi sulit mengaplikasikannya.

Kalau kata Koko Denis, pendakwah muda yang kerap muncul di layar media, orang sering menyebut kita orang taat dan rajin beribadah. Singkatnya, tidak terlihat melakukan dosa-dosa.

Di luar, bisa saja kita merasa bangga diri (ujub) karena orang melihat apa yang luarnya. Orang tidak tahu ada malam-malam yang sunyi dan sendiri yang kita habiskan bukan dalam taat. Kita menghabiskan untuk berimajinasi hal-hal semu. Atau kita habiskan dengan kumpul-kumpul yang berfaedah sampai fajar menjelang.

Atau ada hal lain yang sangat privat yang kita sembunyikan. Di hadapan orang, kita terlihat amat tenang, sederhana, dan berkharisma. Di balik itu, kita tahu borok diri yang kita sembunyikan. Entah kenapa, ketika melihat orang yang perilakunya seperti kita, kita merasa sangat benci. Orang berani sekali mengejek.

Padahal kita dan orang itu bisa dikatakan sama, sama-sama punya aib. Hanya saja, aib orang itu Allah buka agar kita bisa belajar dari kecerobohannya. Sedangkan aib kita masih ditutup Allah agar kita menyadari dan mau memperbaikinya. Selagi ada kesempatan, Allah ingin kita baik. Pada akhirnya kembali ke kita, apa kita mau menyadarinya atau apatis. Wallahu'alam. (**)

Pandeglang, 24 Maret 2026   12.06

Posting Komentar

0 Komentar