Salah Kaprah Kalau Beranggapan Memperdalam Keilmuan Islam Tugas Santri Saja

Sumber: Gen Muslim

Ada pandangan yang kurang tepat pada sebagian kita terkait dengan mempelajari dan memperdalam ilmu agama. Memperdalam agama itu untuk mereka yang ingin jadi ustaz atau tokoh masyarakat saja. Akhirnya, identik sekali: santri adalah untuk mereka yang cerdas dalam menggali pesan dan teks agama.

Terjadi pemisahan pendidikan agama oleh  anak-anaknya. Kalau ia tidak diniatkan jadi ustaz, ya sudah sekolah saja dan belajar agama secukupnya. Tak usah terlalu dalam menggali makna ayat suci dan menenggelamkan sabda-sabda nabi yang diwariskan oleh ulama di kitab monumentalnya.

Itu tugas santri, selayaknya kita cari yang kita lebih butuhkan sesuai kemampuan. Efeknya, banyak pemuda-pemuda Islam yang cukup usia yang masih terbata-bata membaca kalam suci. Jangankan menggali maknanya, tahu lafaznya saja, berikut hukum tajwid masih maksimal.

Memang ada yang bisa membaca Al-Qur'an, namun masih belum maksimal sebagaimana aturan hukumnya. Belum di ilmu fiqih, akidah, sirah dan bidang lainnya yang dasarnya wajib kita ketahui sebagai Muslim. Namun di balik topeng, "Kita tak wajib tahu; itu kewajiban mereka yang bergelar santri."

Beragama pun ala kadar. Ketika mengalami sesuatu pun berlandaskan pada "katanya" bukan "dalil" yang diketahuinya. Padahal di era sekarang banyak sekali sarana yang bisa kita gunakan untuk menggali dan memperdalam keilmuan Islam.

Kalau bukan santri dan amat sibuk, tidak bisa hadir di pangajian, kan bisa menonton di Youtube atau membaca tulisan-tulisan persoalan keilmuan Islam di Google. Di sana kita bisa memilih dan memilah tema yang menarik untuk kita ketahui.

Tapi kok, mencari sumber di Youtube atau Google?

 Itu jauh lebih baik daripada kamu tidak belajar ke mana-mana. Tidak bisa mengakses informasi dari tokoh sekitarmu. Tiap hari otak kita butuh pengetahuan untuk menambah wawasan keislaman, namun, sayangnya, karena terpenjara di balik "tak bersanad", merasa aman dengan pengetahuan ala kadarnya.

Tulisan di internet itu tak bersanad?

Pertama, banyak ustaz muda yang jelas keilmuannya menulis, baik buku maupun konten di internet. Kita bisa membaca itu, maka wajib memilah bacaan mana yang tepat, bukan asal baca. Kalau pun tak paham, kan bisa bertanya atau didiskusikan dengan orang sekitar kamu yang mapan secara keilmuan. Begitu lebih produktif, daripada bangga dengan pengetahun ala kadar tapi tak sadar-sadar.

Kedua, apa urusan kamu dengan sanad kalau kamu bukan santri pun, ustaz? Untuk mereka yang santri, apalagi ustaz bicara agama tanpa landasan dalil di kitab, akan jadi masalah. Berbeda dengan kamu, yang bukan siapa-siapa. 

Mereka tahu dan bisa mengakses langsung kitab asli yang gundul itu. Lah, kamu gimana? Baca ayat suci saja masih belepotan, mana bisa menggali di kitab gundul tersebut. Kita tahu, untuk bisa membaca dan menggali di kitab turats itu perlu penguasaan nahwu dan shorof yang lama. Perlu waktu yang tak sedikit.

Oleh karenanya, mencari pengetahuan itu tak harus menunggu dan berharap. Lakukan sebisa kamu demi bertambahnya wawasan keislaman kamu. Niatnya bukan ingin ustaz atau kiai, melainkan kamu haus ingin tahu ilmu keislaman dan luasnya cakrawala khazanahnya.

Ingatlah hadis Nabi yang populer itu terkait mencari ilmu, yang katanya wajib bagi tiap orang Islam untuk belajar ilmu. Bahkan hadis lain mengatakan dari kecil sampai liang lahad. Artinya di sini jelas:  wajibnya menambah keilmuan Islammu sesuai kemampuanmu.

Ada hal menarik: ketiga guru saya membedah kata "faridotun ala muslimin wal muslimatun", yang katanya di sana menggunakan kata "wajib" tapi "fardu". Kalau kata ulama ahli alat, artinya betapa sangat wajibnya mencari ilmu bagi kita muslimin di mana pun. 

Akhirnya, bisa kita simpulkan bahwa menggali pesan dan makna keilmuan Islam wajib untuk tiap kita. Tidak boleh dibeda-beda. Tidak mudah juga bagi anak-anak; semua wajib mencari makna ilmu keislaman. Terlebih anak muda di sekitar kita yang kelak jadi penerus estafet kehidupan. 

Tidakkah kita malu kalau mereka saja yang jelas bukan Islam dan tak meyakininya sama sekali, tapi tahu Islam dan dinamikanya. Sedangkan kita terlalu banyak waktu luang  menggali ilmu, tapi terhalang oleh kata orang saja, bukan rujukan yang maklum kita ketahui. 

Padahal kita Muslim sejak lahir, tapi sampai akhir hayat kok betah minim pengetahuan soal Islam. Ada saja alasannya, inilah-itulah. Padahal, malas saja. Apakah mungkin kita bangga terhadap keislaman kita, tapi tidak lahir dari pengetahuan mendalam? Hem, yuk mikir! Wallahu'alam. (***)

Pandeglang, 25 Maret 2026  22.55

Posting Komentar

0 Komentar