Catatan Seputar Bimbingan Menulis Artikel Populer di Perpusda Pandeglang

Pembukaan acara. Sumber: grup WhatsApp.

Sekitar pukul delapan kurang sepuluh menit, dengan sepeda motor aku berangkat ke acara Bimbingan Teknis Kepenulisan Konten Budaya Lokal di ruang Oproom Setda Pandeglang. Letaknya sekitar 100 meter dari alun-alun Pandeglang. Bahkan, kalau kamu jalan kaki dari Masjid Agung Pandeglang, tidak akan menghabiskan sebungkus kacang atom. 

Ketika sampai di tempat, peserta lain sudah banyak yang hadir. Terlihat dari sepeda motor yang berjejer rapi di halaman parkir. Ketika aku tanyakan ke pegawai di sana,

"Sudah pada datang," katanya, "itu di atas."

dokpri

Bergegas aku menaiki tangga melingkar itu. Ternyata, memang benar, peserta cukup banyak yang hadir. Di dominasi kawan-kawan pelajar SMA, mahasiswa dan guru. Lah, aku sebagai apa?

Bertemu Senior Rumah Dunia

Hal yang cukup mengejutkan: di sana ada Kang Rudi dan Kang Naufal. Seniorku di Rumah Dunia. Sebelumnya memang ada bocoran dari panitia, narasumber dari Rumah Dunia. Aku kira Kang Hilman ternyata presidennya langsung yang turun gunung. Luar biasa!

Bertegur sapaanlah kami setelah aku mengisi empat kertas yang disodorkan Teh Geb dan rekannya. Ada insiden yang terjadi saat aku ditanya dari mana, maksudnya instansi mana. Lah, aku mengerutkan kening. Aku bukan pegawai juga pelajar. Iki piye?

senyuman pertemanan tiga manusia beda bapak/dokpri

Di situ aku mencantumkan alamat kampungku, dan direspons rekannya Teh Geb, "Apa ini Tegal?" Tadinya aku akan jawab itu kampungku, di mana aku lahir dan besar, tapi tak jadi karena Teh Geb terlanjur menengahi, "Akang dari komunitas mana, Book Party Pandeglang misalnya. Tulis saja!?"

Di situ aku langsung manut, karena memang tahu info ini dari komunitas tersebut. Dan aku jadi tahu, itu toh Teh Geb. Biasanya say hallo di grup WhatsApp komunitas. Ini orangnya di depan mata. Kayaknya sih, ya.

Semeja dengan Mey 

"Kursi ini kosong," tanyaku pada wanita remaja di sampingku.

"Ya, Pak, masih kosong," jawabnya, yang membuatku merasa tua sekali. Hihi.


"Boleh duduk, ya," agak canggung meminta izin.

Duduklah aku di sana dengan Mey sambil melanjutkan obrolan ringan dengan Kang Naufal, Kang Rudi dan rekannya. Aku tanya Mas Gong tentang aktivitas teman-teman di Rumah Dunia.

Cukup lama juga aku tak ke sana. Terakhir hadir di acara Detik Akhir 2023 dan Detik  Awal 2024 Rumah Dunia.Tentu banyak perubahan di sana, terutama semenjak wafatnya Kang Salam, presiden sebelum Kang Rudi.

Dengan Mey sempat ngobrol sih, asyik juga orangnya. Katanya dia berangkat jam 4 subuh dari Cibaliung bersama gurunnya. Tebak naik apa?

Tersentak aku, meraba dada dan merenung gitu, "sebegitunya ia berjuang sama gurunya, ya," lirihku, merasa malu sendiri.

Ada Bu Emen

Beliau tepat di depan mejaku. Guru sekolah di mana adikku belajar. Kami berbeda kampung, terpisah oleh pesawahan. Kejutan juga. Aku bertemu dengan orang-orang yang aku kenal.

beliau semeja sama Pak Jawas, penulis yang sudah punya 3 buku. (dokpri)

Sempat bicara tentang beberapa hal, misalnya terkait rencana gerakan literasi di Balai Desa kami. Bisa dong dibangun perpustakaan di sana? Aku agak skeptis. Daripada buat bangunan lebih baik membangun sumber daya manusianya. Itu bisa lah nanti dibahas di lain kesempatan.

Ketemu Kang Mamet

Kejutan itu bertambah dengan hadirnya senior dan sesepuh kami di komunitas Book Party Pandeglang. Kami biasanya menyapanya Kang Mamet. Sama beliau ini aku wasilah dekat sewaktu di Rumah Dunia. Ternyata dari kota yang sama, begitu aku berpikir.

Meskipun gambarnya nge-blur, itu asli orang kok.

Pembawaan beliau yang ramah dan bersahabat, aku pikir, menjadi magnet tersendiri sehingga orang merasa nyaman dengannya. Kalau masuk bursa cawapres, mungkin beliau bisa bersaing sengit dengan Mas Gibran. Mungkin loh, ya. Hihi

Sambutan panitia dan Perwakilan Bupati 

Setelah pembawa acara membuka dengan suara yang menggema dan agak formal, acara dilanjutkan dengan dua sambutan.


Ibu Haji Neneng.

Pertama, dari Ibu Hj. Neneng selaku kepala Dinas Perpusda Pandegalang. Dalam pemaparannya yang lugas dan energik itu, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Pandeglang, dalam hal ini bupati, karena sudah mendukung terlaksananya acara.

Beliau juga menyampaikan filosofi acara tersebut. Dibuka dengan pantun dan ditutup dengan pantun juga. Luar biasa sih, di usia yang tidak muda lagi, terlihat spirit muda beliau masih berkobar-kobar macam lagunya Darah mudanya Bang Haji Rhoma.

Kedua, sambutan dari Bupati Pandeglang yang diwakili Bapak Doni, selaku Asda Pandeglang. Kurang lebih aku mencatat cerita beliau terkait sejarah Pandeglang dan potret Pandeglang dulu.


Pak Dodi.

Meski pun beliau orang Lebak berdarah Pandeglang, sekilas dari pemaparan beliu aku tahu, pengetahuan beliau bukan kaleng-kaleng. Sapaannya pun hangat dan terlihat bijaksana. Tiba-tiba aku melihat beliau, kok teringat Pak Luhut Panjaitan. Menteri senior di pucuk RI 1.

Pemaparan Narasumber 

Kurang lebih dua jam beliau memaparkan kiat dan trik mudah membuat artikel populer. Dalam hal ini, feature, katanya, adalah bagaimana membuat catatan perjalanan yang informatif dan lentur agar bisa dijangkau oleh banyak kalangan.

Kang Rudi tengah menyampaikan materi.

Aku sendiri tidak terlalu aneh dengan menulis catatan perjalanan ini, karena di Rumah Dunia pernah belajar dan pernah ikut kelas Mas Gong via Google Meet. Tidak dengan yang lain, nampaknya agak terkejut.

Sebenarnya mudah sekali memahaminya. Feature itu menulis berita dengan bahasa bebas tapi tetap terikat dengan kaidah jurnalistik. Misalnya, ketika kamu menulis berita, kamu harus menggunakan rumus 5 W + 1 H, begitu pula di feature ini.

Rasanya, tak perlu aku kupas, ya, apa itu rumus 5 W + 1 W. Itu loh yang Who, where, when dan sebagainya.

Hanya saja, aku sempat mempersoalkan kenapa di surat pemberitahuan harus membuat konten budaya lokal, sementara di acara yang dibahas catatan perjalanan.

Sungguh, ini paradoks sekali.

Saat aku konfirmasi ke Kang Rudi di sela isoma, katanya panitia memang sudah memberi informasi matang begitu. Dari sini aku maklum, kalau sekadar tulisan budaya lokal, maka tidak ada efek secara ekonomi yang nyata pada lingkungan sekitar.

Singkatnya, tulisan itu "punya nilai jual" tidak sekadar memberi informasi kepada pembaca. Semoga informasi itu menggerakkan pembaca untuk tahu dan ingin berkunjung ke tempat yang ditulis.

Tambahan

Sebenarnya aku menunggu momen diskusi antarpeserta yang dikordinir oleh panitia. Jadi, 50 peserta ini beradu argumen dan tuker pikiran terkait konten apa yang bakal mereka angkat. Kalau tadi itu hanya arah antara narasumber dan peserta. Ya, bagi yang aktif, bagi yang lain menggut-manggut sambil bilang, "ngomong apa sih, dia?" 


Kang Rudi bagiku tadi luar biasa sih. Meski pun terus dihujani pertanyaan-pertanyaan yang itu-situ saja, beliau nampak sabar sambil menatap langit lantas berujar, "Ya Allah, hamba kuat. Kuat lagi ya Allah."

Penutup

Sesi awal pertemuan tadi bagiku momen istimewa. Aku bisa melihat anak-anak muda (serasa tua banget aku) yang tulisannya bagus dan pikirannya tajam. Juga ada para guru dan pegiat literasi yang cakap di bidangnya.

Semoga ini jadi pintu awal gerakan bersama untuk memajukan literasi Pandeglang. Membuka cakrawala kesadaran kita kepada kekayaan hayati dan budaya daerah. Mendongkrak ekonomi kreatif, syukur menambah pendapatan daerah yang kerap disorot.


Satu lagi, tadi aku kedinginan pakai sangat. Saat aku tanya ke Mey, "Dingin gak?"

"Dingin banget, ya, sama." (**)

Pandeglang, 17 Juni 2026   22.59

Posting Komentar

0 Komentar