| sumber: Prodi Kpi Irmafa. |
Sebentar lagi adikku merampungkan skripsi. Tinggal menunggu waktu untuk menyelesaikan studi S1. Sebab itu menjadi syarat di akhir pendidikannya sekarang. Entah selanjutnya, mau melanjutkan studi atau kerja nyambi kuliah, biarlah itu jadi keputusannya nanti.
Fase ini jadi penting karena akhirnya di keluarga kami bakal ada yang menjadi sarjana. Di kampung kami, bisa dihitung jari berapa orang yang dapat gelar ini.
Itu pun bisa dipukul rata. Orang tersebut memiliki kelas ekonomi yang mapan. Untuk golongan sederhana macam kami, yang pendapatannya pas-pasan dengan beban ekonomi gemuk, kuliah adalah hak istimewa.
Aku ingat sekali ketika adikku meminta izin untuk kuliah, terjadi pro kontra di keluarga. Emak berpikir dengan pandangan realistis: uang dari mana kita untuk biaya hari-harinya? Sedangkan aku dengan modal harapan berpikir, kalau untuk niat jahat saja orang berani nekat, kenapa untuk niat baik harus takut?
Aku punya gambaran dari orang-orang Jawa, meskipun standar ekonominya terpuruk, anak-anaknya bisa disekolahkan sampai perguruan tinggi. Ada yang studi di luar negeri dan banyak yang sudah menjadi guru besar di perguruan unggulan di daerahnya.
Sedangkan Emak berkaca pada pengalaman kawannya yang anaknya kuliah, biaya hariannya mahal. Belum lagi beban praktik. Intinya, mencekik. Janganlah berpikir macam-macam kuliah lah kalau standar ekonomi keluarga belum stabil.
Akhirnya, Emak paranoid. Meski pun begitu, musyawarah keluarga itu menghasilkan keputusan bahwa adikku boleh dengan beberapa catatan. Silakan kuliah, tapi ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan di tengah jalan, tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Dengan kualitas ekonomi yang masih tertatih-tatih agar lebih sederhana dan mandiri. Syukur bisa mencari cuan di tengah keterpurukan itu.
Ternyata, berani mengejar mimpi itu tidak semengerikan yang dibayangkan. Adikku mengalami itu. Masa sulit itu bukan untuk dicaci atau terus ditangisi. Percayalah, itu tidak akan mengubah keadaan.
Kita harus berpikir, merencanakan masa depan dan berusaha merapikan puzzle-puzzle yang terserak. Masa lalu keluargamu pernah terpuruk di kegelapan yang pekat, tidak selalu dengan kamu yang masih mempunyai segudang mimpi yang harus kamu maksimalkan.
Kesempatan itu masih luas. Ubah apa yang bisa kamu lakukan. Kita tengok masa yang lalu untuk melihat hari esok yang lebih cerah lagi. (**)
Pandeglang, 30 Mei 2026 22.43
0 Komentar
Menyapa Penulis