![]() |
| Ilustrasi soal jarak terpisah. (sumber: Pos kota) |
Kabar darimu akhirnya datang jua.
Sekian lama bertanya dan meraba-raba, apa kamu baik-baik saja? Terjawab sudah. Kabar itu cukup jadi jawaban atas semua yang dirasakan.
Kalau diungkapkan, mungkin begini rasa atau gemeletuk rasaku.
Apa kabarmu cantik?
Aku kangen.
Aku serius.
Lama tak ada kabar dan tiba-tiba
datang memberitahu sekarang lagi mondok, membuatku bungah juga takjub. Alasan kamu
pergi pun masih aku herankan. Lebih mengherankan kamu sekarang menimba ilmu lagi.
Bukan, bukan aku melarang. Aku
pikir kamu mencari kambing hitam atas semua keputusanmu. Memilih dia dan akhirnya
mengarungi samudera rumah yang bertetangga.
Ternyata tidak.
Kamu memilih untuk rihlah dan
berdamai dengan rasamu. Meredam semua rindu itu dengan menatap masa depan. Kamu
memilih untuk jadi wanita yang berdamai dengan gejolak rindu dengan memeluk
ayat-ayat Allah dengan penuh kesungguhan.
Sikapmu itu membuatku semakin sayang.
Aku tidak malu mengakui dan tidak ingin berpura-pura menutupinya. Kamu selalu indah
di hatiku. Parasmu selalu manis di ingatanku. Dirimu selalu cantik di rasaku.
Jarak yang membuat kita tak lagi
bisa berkomunikasi seleluasa dulu sejujurnya, membuatku simalakama: rindu ingin
mengutarakan debar asmara dan memahami semua itu memang yang terbaik.
Terlepas dari itu, aku memahami
arti cinta tak harus memiliki; mungkin artinya jiwanya terpisah jauh, namun
hatinya akan tetap lekat di jiwa. Sejauh apa pun jarak, keduanya percaya kisah
cinta itu akan harum dan menemukan jalannya sendiri.
Jangan takut dan cemas. Karena jalan
kita adalah juang. Mengorbankan waktu sebentar untuk waktu yang lama. Memang tidak
mudah, tapi tidak akan membuat kita menyerah.
Kita percaya, seperti apa pun kita
berpura-pura tak peduli, di situ kita bisa menebak ada sesuatu yang sengaja kita
sembunyikan. Biar kamu cepat move on, katanya. Padahal tidak semudah itu.
Karena hati bukan adonan kue yang mudah dibolak-balik agar empuk.
Bahasa hati adalah rasa. Halus
pesannya, tapi dalam maknanya. Di balik tanya dan tebak, di situ tersimpan
degap jiwa yang mempesona. Orang mungkin bisa mendefinisikan secara rinci soal
rasa kasih, walau di balik itu masih terlalu banyak pesan yang tak mampu
diterjemahkan.
Justeru semakin abu-abu, semakin
membuat kita pensarasan. Karena semakin kita tahu arti dan pesan di balik sinyal
perasaan, semakin kita bersikap biasa. Karena kita berpikir kalau sudah tahu
mau apa lagi, gak ada kepentingan lagi.
Pandeglang, 1 Juni 2026 22.03

0 Komentar
Menyapa Penulis