![]() |
| Ilustrasi diambil dari Kompas Edukasi. |
Usiaku tidak lama lagi, duabelas tahun. Usia yang amat harum, segar dan penuh warna. Di usia sekarang, aku ingin menikmati hariku dengan keceriaan. Aku ingin bersama teman-teman yang mengasyikkan. Mengisi waktu dengan obrolan hangat dan diskusi soal pelajaran apa saja yang kami rasakan.
Aku pun ingin bersama
keluarga yang meneduhkan. Tempat di mana aku pulang dan menghidupkan udara
kehangatan. Ada Emak yang baik dan sedikit cerewet (malah sangat cerewet
banget, tapi jangan bilang-bilang ya, hihi). Rasanya ada saja salahku
di mata beliau.
Terkadang kesal sih, apa
gak bisa diobrolkan dengan baik-baik tanpa harus ngomel. Tapi ya sudahlah, namanya
perempuan ya, rumah sepi tanpa omelan pokoknya. Aku tahu kok, mungkin saja aku
yang salah dan aku belum sadar dengan kesalahan itu. Di balik iti, beliau pasti
sayang aku.
Aku pun punya kakak-kakak
yang baik, walau pun kadang iseng. Hemm, pokoknya. Kalau lagi berisik, pengen
banget aku timpuk saja tuh, tapi takut dimarahin. Hihi. Takut juga balik ngomel.
Itu loh kalau lagi usil, hiiiiih, bikin kesal. Apalagi kalau aku lagi batmood,
sudah pokoknya. Tapi mereka gak tahu, kalau adiknya lagi galau. Huhuhu.
Hal yang membuatku resah
adalah, aku mengenal kata cinta. Ya, aku mencintai dan ingin dicintai
selayaknya manusia normal. Bersama temanku, aku menemukannya. Laki-laki biasa
yang sopan, ramah dan humoris. Lewat chat-chat intens di gawai kami. Terjadilah
satu peristiwa kami pada tahu bahwa kami memang sama-sama mencintai. Rasa itu
tidak bisa bohong.
Akhirnya, dia pun
mengungkapkan itu.
Tapi, aku berat hati menjalanimya. Ujian sekolah sebentar lagi. Ini akhir aku studi di SD. Jadi, aku berpikir ulang, apa artinya menjalani hubungan dan manfaatnya untuk semangat hidupku? Benarkah itu bermanafaat untukku?
Melihat teman-temanku sih sama pasangannya, kayaknya mengasyikkan. Mereka romantis banget, macam di film begitu. Aku kadang iri sih, bahkan sampai ingin seperti itu. Biar gak terlihat paling ngenes 🙂↕️.
Setengah hatiku justeru menolak.
Emak sering
menasihati aku, katanya jangan terlalu dekat dengan laki-laki, karena tidak
semua laki-laki itu baik. Ada buaya juga di kalangan laki-laki. Ada juga srigala berbentuk laki-laki.
Bahkan katanya ada yang berubah jadi kambing hitam. Jadi aku takut sih.
Kakakku malah bilang,
hati-hati sama laki-laki yang pandai bersilat lidah, katanya lidahnya bisa saja panjang
macam sinetron azab Indonesia. Karena rajin dusta, makin panjang. Hiih!!
Padahal kakaku juga laki-laki.
Katanya kalau kakaku beda, meskipun laki-laki, tapi baik. Buktinya, tiap makan tidak
pernah menyisakan yang lain. Saking baiknya, jatahku kadang dicomot juga. Oalah,
nasib jadi anak paling kecil. Mau ikhlas tapi ga ridho, mau berkomentar nanti
diceramahi lagi. Hiks!
Karena usiaku belum
matang, maaf ya, aku tak bicara soal perasaan terlalu jauh. Yang jauh biar
semangatku belajar. Berlatih banyak hal. Menikmati apa yang bisa bagus untu
merangkai masa depan yang cerah. Secerah wajah Bu guruku yang pada glowing.
Hihi.
ia memang tak bisa mengubah warna dan tulisan. (**)
Pandeglang, 2 Juni 2026 23.13

0 Komentar
Menyapa Penulis