Melihat Guur Gembul Tidak Sekedar Influencer Belaka


 

Saya termasuk orang yang tergelitik dengan munculnya sosok Guru Gembul di ranah sosial kita. Sosok yang terkenal berani, cerdas, dan argumennya yang apa adanya sering kali memicu kontroversi. Maksud apa adanya itu, tedeng aling-aling tanpa mau menyaring dengan bahasa yang lebih "bersahabat".

Tentu kita tahu, apa yang beliau katakan itu muaranya keresahan dirinya dan keresahan masyarakat yang ia tangkap. Keresahan itu bisa memang benar adanya atau sekadar suara di permukaan yang beliau persepsikan ada begitu.

Bagi saya, ini menarik. Setidaknya, kalau kita lihat dari persepsi sosial, suara itu terasa renyah karena tidak bertele-tele melihat fenomena sosial, politik, dan ekonomi kita.

Bahasa yang blak-blakan terasa sekali bombastis. Itu sangat laku di tradisi masyarakat kita, yang tidak mau ribet-ribet menelan informasi tersebar. Telan saja dulu, urusan menelaah, bagaimana nanti.



Misalnya pandangan beliau soal dunia pesantren dan tradisinya mengkaji kitab-kitab kuning terdengar sumbang. Ada benarnya, tapi banyak pula rancunya. Mengkaji kitab itu ada tahapan-tahapannya. Tidak bisa kita baru masuk langsung masuk kelas khusus, lantas ikutan adu debat antar kelas atau sekolah?

Kalau kamu ingin di tahap ini, kamu harus menjalani proses pematangan pikiran dan sumber dulu. Kenapa begitu? Karena argumen kamu adalah pandangan kamu soal teks agama.

Dalam kajian Islam, menafsirkan Al-Qur'an dan hadits tanpa rujukan, hanya berlandas pada akal saja, dianggap menyesatkan. Ada benarnya, tapi kelirunya juga tidak sedikit.

Kalau pesantren tidak mengajarkan sikap kritis, seperti yang dituduhkan Gugem, ada benarnya. Tapi untuk santri mana dan siapa dulu? Sebab kalau kita lihat di Bahtsul Masail, di sana para santri adu argumen panas kok. Mereka mempersoalkan argumen-argumen lain. 

Saya melihatnya bukan dunia pondok itu tidak mengajarkan sikap kritis, tapi lebih kepada "menempatkan kritis itu di mana" dan "untuk siapa" baiknya. Dengan ribuan tahun pondok eksis sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, tentu begitu banyak problematika yang dihadapi.

Menghadapi gempuran arus teknologi dan iptek itu, pesantren melihatnya secara kritis: mana tradisi perlu dipertahankan dan mana yang perlu dibenahi. Sebagai sebuah lembaga yang tua, tentu saja pondok tidak serta-merta menerima budaya baru. Bukan anti, tapi lebih ingin menjaga tradisi agar tetap hangat di kalangan muda.

Kalau kita menggunakan teori sejarawan NU, orang seperti Gugem melihat tradisi pesantren dari persepsi Barat, makanya acap kali bentrok pemahaman. Seharusnya tradisi itu dari persepsi lokal agar mampu merobek alasannya.

Meski pun begitu, pandangan Gugem soal maraknya pelecehan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh tokoh agama di pesantren memang perlu menjadi perhatian. Apa pun sebabnya, sungguh itu mencoreng citra pondok pesantren.

Oknum-oknum di dalamnya jangan sampai menuruti pamor jua kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini. Keamanan dan kenyamanan pelajar di dalamnya harus menjadi perhatian. Lagian kecerdasan yang hendak dicapai bukan sekadar teori, tapi berbuah kesalehan sosial pula. Tidak sekadar saleh secara ritual belaka.

Di titik ini, kalangan pesantren tidak selalu waspada, apalagi takut dengan konten-konten Gugem. Seharusnya kita bersyukur ada orang yang berani begitu. Kalau dia benar, itu memang yang kita harapkan. Kalau banyak salahnya, kita maklumi saja. Manusia tidak selalu benar, kan? Kalau dunia pondok masih punya kekurangan walau pun ribuan tahun bisa eksis, apalagi dirinya yang katanya baru bersinggungan dengan beberap pesntren yang bisa jadi tidak mereg=fresntatifkan pesantrenm yang ia kritik tai beum penah msuk di dalamnya. (**)

Posting Komentar

0 Komentar