Islam Sebagai Sebuah Realitas

sumber: Islam.co


 Assalamulaikum warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah wal hamdulillah. Wasalatu salamu ala rasulillah. Amma ba'du.

Pertama-tama, mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Alhamdulillah, malam ini kita bisa berkumpul dan bermuhajah dalam aktivitas rutin kita.

Salawat serta salam kita curahkan kepada baginda Nabi saw. Baik kepada keluarganya, para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai akhir hayat nanti.

Bapak dan ibu yang saya muliakan.

Dalam kesempatan mulia ini, kita akan sama-sama mengkaji perihal Islam. Ada banyak yang perlu kita perdalam: apa itu Islam? Bagaimana kita melihat perbedaan dalam Islam dan bagaimana memaknai Islam yang memberi kedamaian di era yang serba digital ini?

Islam secara bahasa berarti patuh, pasrah atau selamat. Secara istilah, dipahami sebagai kepatuhan paripurna seorang manusia kepada Allah dengan penuh kesadaran dan kesungguhan. 

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan: Islam itu agama yang penuh kepasrahan, yang mengikat secara sempurna aturan kehidupan penganutnya. Seorang Muslim wajib hukumnya ikut dan berusaha memaksimalkan harinya mengabdi kepada-Nya, dalam hal apa pun dan kondisi apa pun.

Timbul pertanyaan: Islam yang mana dulu? Ada Islam NU, Islam Muhammadiyah. Atau bahkan kita mengenal Islam Nusantara, atau mungkin radikal yang di belakang hari acap membuat kita susah tidur? Atau Sunni, Syi'ah atau justru Wahabi?

Islam Sebenarnya, ya Islam. Tak ada yang lain. Perangkatnya jelas ada di rukun iman dan Islam. Fondasinya ini. Kalau keluar dari sini, maka semuanya hanya klaim belaka.

Ada pun NU atau Muhammadiyah itu ormas yang memang membentuk keragaman. Secara ajaran mereka sama. Hanya bedanya, ada pemaknaan terkait penafsiran teks agama. Ini bukan hal biasa; dalam sejarah, ini sangat biasa.

Dari sejarah lahirnya organisasi ini, kita bisa tahu upaya penyikapan terhadap realitas sosial politik di masa itu. Berarti yang hendak dituju adalah solusi. Singkatnya, selama perbedaan masih dalam batas koridor, maka masih dimaklumi.

Terpenting selain ilmu, kita juga butuh pengamalan ajaran Islam itu sendiri. Bagaimana agar makna kedamaian dan keselamatan memang kita rasakan. Sejatinya itu.

Apa artinya agama kita damai dan menyejukkan, tapi jiwa diri kita kerontang dengan ketenangan itu sendiri. Ini—meminjam istilah Pak Mahfudz, MD—ada yang salah dengan keislaman kita. (***)

Pandeglang, 11 Juni 2026   21.17

Posting Komentar

0 Komentar