| Kabar duka yang disebarkan para alumni di status WA-nya. |
Sore tadi aku ikut menyalatkan guruku, Pak Endin, di musala Pagembrongan. Beliau pengajar dan pengurus aktif di Yayasan Al-Falah Karang Tanjung. Cukup lama beliau membumikan pesan dan hikmah keislaman di sana.
Seingatku diajar beliau itu di kelas 3 MTs, sekitar tahun 2008. Beliau mengajar fiqih. Pembawaannya tenang, ramah dan kebapakan. Berlanjut ke Aliyah. Aku ingat sekali saat praktik salat untuk syarat kenaikan kelas,
beliau berkata: "Bacaan maneh tos bagus, tinggal ditingkatkan deui, Din. Gerakannya sama sudah bagus," dengan senyum khas beliau. Aku masih ingat betul kata-kata itu. Walaupun dalam hati bertanya, emang ya, sudah bagus?
Maka, ketika usai studi, ketika ketemu di mana pun, beliau sering menyapa duluan; terkadang aku juga, dan biasanya aku mencium tangan beliau. Ketika berpapasan di jalan, tepatnya di kendaraan, pun setidaknya klakson aku tekan sebagai simbol sapaan. Beliau menoleh dan tersenyum, kadang beliau balik klakson.
Memang tidak ada momen khusus sama beliau. Karena memang segan untuk bicara. Momen lain sih di acara OSIS ya, di tahun 2011-an. Kami OSIS mengadakan perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tepat sekali waktu itu di bulan suci Ramadan.
Kami bergelandang dan tidur di sekolah untuk memastikan acara berjalan lancar. Katanya itu acara yang besar di masanya, karena kami juga mengadakan bazar, lomba-lomba, sampai fashion show dari MI, MTs, dan Aliyah.
Kaitan dengan beliau, karena bambu untuk umbul-umbul itu dikasih beliau dan amu harus mengambilnya cukup ngosa-ngosan di bukit Nuar.
Lucunya, meskipun sudah diberi peta petunjuk oleh beliau, kami nyaris tak sampai dan berputar-puter mencari arah. Namun, ditemani Pak Endin, langsung datang mengecek. Katanya, bambu yang cari tempat di depan kami.
Kami istigfar bersama, Gusti Allah!
Aku termasuk orang yang paling aktif bertanya di pelajaran beliau. Kalau ditanya kenapa, alasannya sederhana: karena tak ada yang mau bertanya kepada beliau.
Kalau ditanya, aku selalu punya alasan bertanya juga tidak lebih ingin menghidupkan kelas. Soalnya kalau pelajaran beliau teman-teman itu kurang adab sekali. Berisik sekali.
Untuk menjaga marwah beliau tetap bagus, jadi aku bertanya. Entah ya, apa itu baik atau enggak. Di masa itu memang itu niatnya.
Begitu pula semester dua kelas dua Aliyah, beliau mengajar SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), beliau termasuk orang yang langganan aku bertanya atau diskusi terkait tema bahasan. Lagi-lagi sebatas itu, karena memang durasi dan lingkungan kurang kondusif.
Hal yang luar biasa, cukup banyak orang yang hadir menyalatkan beliau. Aku bisa melihat guru-guruku yang dulu mengajar, baik di MTs maupun di Aliyah. Bisa bersalaman dengan Pak Irman, Pak Muf, Pak Nunu, Pak Nana, Pak Dudi. Juga melihat para kiai-kiai khos di daerah kami. Hadir pula Abah Haji Dadang, putera allahu yarham Mama Idrus Turus.
Melihat orang alim lagi abid itu bikin dada terasa berat. Aku bertanya ke diriku: siapa dirimu dibandingkan dengan mereka, hai jiwa, bukannya kamu makhluk hina dengan ragam dosa nan tumpuk? Aku malu dengan diriku. Rasanya kecil sekali di antara tatapan dan kalam indah para jamaah yang hadir.
Lihatlah, jiwa, almarhum memanen kebaikan yang beliau lakukan selama hidup, lantas kamu apa?
Kamu apa yang dibanggakan? Apa yang kira-kira bisa membuatmu bangga dengan pencapaian hidupmu?
Aku pun terpekur melihat semuanya. Selamat jalan, Pak. Semoga amal baik dan tempat terbaik menyertai Bapak di sana. Lahu, al-Fatihah! (**)
Pandeglang, 21 Mei 2026 00.08
0 Komentar
Menyapa Penulis