| Ilustrasi bentuk fisik kumpulan pidato masa itu. (sumber: Shopee) |
Semenjak kehabisan napas saat memimpin salat magrib yang lalu, sekarang aku tengah berlatih secara intens mengatur ritme pernapasan. Bagaimana caranya agar naps stabil dan tidak berpengaruh pada bacaan? Ini memerlukan teknik dan latihan yang konsisten.
Sejujurnya, aku memang punya masalah tiap bicara di depan khalayak ramai. Ini terjadi karena ada pengalaman traumatis di masa lalu.
Semasa SD, aku pernah ikut lomba pidato antarsekolah se-kecamatan Karang Tanjung. Masa itu SD kami masih masuk ke Karang Tanjung, sebelum wilayahnya dipecah ke Kecamatan Koroncong.
Aku yang digadang-gadang sebagai perwakilan sekolah tentu saja harus berlatih ekstra dan sekuat tenaga menghafal teks pidato yang lumayan banyak dan monoton dari buku mini kumpulan pidato.
Aku tidak terlalu yakin bisa menghafal, selain waktunya tinggal beberapa hari lagi dan teks yang banyak. Aku melihatnya horor banget; sudah mepet waktu, gurunya tidak serius membimbing dan di saat yang sama harus tampil prima. Lengkap sudah pintu kecemasan terbuka.
Akhirnya, aku berinisiatif membuat teks pidato sendiri yang ringkas dan bahasanya cair. Masalahnya, aku tidak punya bahan dan buku sebagai rujukannya. Sepulang sekolah, aku tidak langsung ke rumah, tapi ke pasar. Di sana Bapak berjualan dan aku meminta uang untuk membeli buku kumpulan pidato.
Singkatnya, di buku itu aku memilih tema seputar salam yang menurutku lebih ringan bahasanya. Semalaman aku hafal tema itu yang besok paginya bakal aku sampaikan ke para peserta dan jamaah lain di dekat kantor Kecamatan Karang Tanjung.
Seingatku, aku dapat urutan ke-3 dari belasan peserta yang ada. Urutan yang aman sebenarnya. Kalau peserta sebelumnya biasa saja, masalahnya peserta pertama dari MI Bulwaton lumayan keren dan atraktif. Dengan busana yang rapi dan tampilan yang meyakinkan. Begitu pula dengan peserta kedua dari SD lain.
Sedangkan aku, teks pidato saja belum hafal. Celana pun resletingnya bermasalah. Baju koko yang aku pakai terlihat tak meyakinkan. Cukup sudah jadi kesimpulan. Aku tidak baik-baik saja saat itu.
Hasilnya memang begitu. Badan gemetar dengan buih keringat sebesar jagung membasahi sekujur tubuhku. Nada suara yang ngos-ngosan. Kamu bisa bayangkan seperti apa kesimpulannya. Efek setelahnya, tiap mau tampil di depan khalayak, selalu saja ada rasa deg-degan.
Di masa MTs pun, tiap selesai upacara, harus ada perwakilan kelas kultum. Kebetulan aku didaulat oleh teman-teman. Entah kenapa program itu tidak aktif lagi justru di saat aku terpilih sebagai wakil kelas.
Hiks!
Meski pun aku punya trauma, namun tidak mengecilkan tekadku untuk terus berlatih dan berlatih. Aku tidak ingin kalah oleh diriku dan rasa takut yang ada dalam diriku. Hal itu aku buktikan dengan ikut kembali dalam lomba pidato antarkelas di Aliyah. Hasilnya, alhamdulillah berhasil menggondol juara pertama.
Ini membuktikan teori Sigmund Freud soal perasaan traumatis tidak sepenuhnya harus diyakini. Meminjam istilah koleganya, Alfred Adler, trauma itu sikap inferior saja. Artinya, bisa sembuh asal mau menapaki jejak prosesnya.
Sikap inferior (rendah diri) bisa diubah kok, asal kita mau membangun pikiran positif dan melatih mental. Sejatinya, manusia selalu ingin tampil unggul dan berkontribusi untuk sesamanya.
Berkat teori individual Adler, aku menyadari bahwa dalam hidup kita harus membedakan mana masalah diri dan penilaian orang. Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang sehingga berpengaruh pada mentalitas kita. Sayangnya, kita meletakkan kesalahan itu pada orang. Bukan mengembalikan masalah itu ke diri sendiri.
Ketika kamu cemas dengan penilaian orang, artinya pertahanan dirimu masih lemah. Kurang tertatih mengelola emosi diri. Bukannya hanyut di luka masa lalu. Bukan pula mencari kambing hitam atas masalah tersebut.
Sekarang, aku sudah berdamai dengan masa pahit itu. Kenapa harus takut sedang itu sudah berlalu. Harusnya, benahi selagi bisa. Bukan terpuruk lagi. Wallahu'alam. (***)
Pandeglang, 23 Mei 2026 21.45
0 Komentar
Menyapa Penulis