Aku memilih diskusi bersama pegiat literasi di kotaku. Walau pun tema yang diusung tentang anime. Anime adalah hal yang tak kupahami. Karena sebatas tontonanku, ya, Kapten Tsubasa dari Jepang itu. Sepertinya ada yang lain cuma lupa.
Meski pun begitu, aku memilih untuk ikut mendengarkan. Kita boleh tidak hobi, tapi bisa saja ada hal yang membuka perspektifku terkait anime atau pandangan mereka sebagai penikmat anime yang menarik.
Seru juga, bisa berbincang dan mendengarkan pemaparan Kang Kamal soal dinamika film anime. Dilengkapi oleh Kang Alfian. Ternyata, membicarakan anime tidak sekadar film saja.
Ditinjau dari segi sosial, anime bisa juga membentuk karakter suatu bangsa. Dalam hal ini, Jepang. Di balik kesuksesan bangsa Jepang melahirkan tokoh-tokoh anime, di balik itu ada usaha mereka untuk memperkenalkan tradisi dan kekayaan intelektual orang Jepang kepada dunia.
Aku pernah membaca buku (lupa siapa penulisnya dan bukunya apa). Di sana diterangkan bahwa kemajuan Jepang itu dimulai dari keberanian warganya bermimpi. Mimpi itu tidaklah disederhanakan sebagai mimpi, tapi ada ikhtiar dan usaha yang mereka lakukan secara konsisten.
Kita boleh banyak bermimpi, tapi selanjutnya perlu ada aksi nyata.
Misalnya, rakyat Jepang ingin tim sepak bolanya negaranya masuk kejuaraan Piala Dunia. Bagaimana caranya? Mereka menciptakan film Tsubatsa untuk memantik mimpi itu agar tercapai. Hasilnya, Jepang sekarang termasuk negara Asia yang tak pernah absen bertanding di event empat tahunan tersebut.
Jepang dan anime telah menjadi ikon yang selalu dinantikan warga dunia. Film One Piece, misalnya, termasuk film yang menyedot antusiasme.
Bahkan, di negeri tercinta, film tersebut sempat membuat geger. Bendera One Piece dikibarkan di mobil dan tempat umum sebagai simbol kaum muda mengoreksi terhadap realitas sosial politik.
Pejabat kita sampai harus melarang pengibaran bendera tersebut karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Terjadi pro-kontra cukup tajam; antara yang kekeuh memperjuangkan, ada yang biasa saja.
Lantas, bagaimana anime tersebut, mungkinkah mampu mengubah karakter sebuah bangsa?
Aku ingat buku The Psychology of Women. Karya seorang pemikir Turki, yakni Prof. Dr. Nevzat Tarhan. Beliau mengatakan, perbedaan Jepang dan Turki dalam menyikapi modernitas adalah bangsa Jepang tidak kehilangan kepercayaan diiri. Mereka memelihara tradisi yang ada dan meyakini bahwa itu adalah sebuah kekayaan lokal.
Jepang boleh modern, tapi modernitas tak boleh merusak kekayaan tradisi lokal. Turki sebaliknya. Modernitas dipahami secara absurd. Turki di masa kepemimpinan Atatürk menelanjangi kekayaan lokal dan tradisi di masa itu.
Turki dibawa ke paham yang baru, justru sebaliknya Turki. Adat istiadat yang ada, karena ingin disebut modern, sok diwarnai ke barat-barat an.
Padahal tak sepantasnya begitu. Kalau ingin modern, tak harus menghapus tradisi yang ada. Menjadi modern tidak selalu menjadi orang baru, bisa dimaknai sebagai media silaturahmi.
Dalam konteks Indonesia, anime bermakna pengenalan kekayaan bangsa. Bukan sebaliknya. Terus, bagaimana relevansinya sekarang? (**)
0 Komentar
Menyapa Penulis