![]() |
| Ilustrasi diambil dari Shutterstock. |
"Kamu serius sama dia, Nak?" tanya Emak di sela-sela tugas penelitianku.
"Kayaknya begitu, Mak. Kenapa, kok Emak kayak ragu begitu?'
"Ya, ragu sih enggak. Masa iya, kamu mau memilih perempuan yang masih sekampung?"
"Memang kenapa kalau sekampung, Mak?" Aku menghentikan aktivitasku. Aku yakin obrolan ini akan panjang. Ya, seperti sebelumnya.
"Hemm...." jawabnya berat.
Kutatap wajah yang sudah terlihat kerutnya. Sisa kecantikan masih nampak. Rambut yang sedikit memutih. Tatapan itu layu seumpama bunga yang tak tersiram berhari-hari.
"Jatuh cinta itu tidak salah, tapi kenapa harus kepada Sari?"
Kenapa kepada Sari? Memang kenapa dengan Sari? Apa karena rumahnya tak jauh dari rumahku? Apa karena aku orang sekolahan dan dia orang pondokkan, lantas cinta kami tak boleh menyatu? Atau karena sebab lain yang tak kami pahami?
Aku bingung mau menjawab apa. Pernyataan Emak itu isyarat jelas: cintaku dengan Sari bakal berhadapan dengan kenyataan yang getir. Entah bagaimana respons orang tuanya Sari. Apakah sama?
**
"Seperti apa pun sikap orang tua kita, aku ingin hubungan kita tetap bertahan sampai nanti kita menyerah. Lelah. Pasrah."
"Tapi Sar..."
"Jangan ada tapi, kak? Aku akan setia menunggu. Lagian, satu minggu lagi akan ke pondok. Aku akan menunggu di sana sembari memupuk ilmu buat bekal hidup nanti."
"Tapi..."
"Aku sayang kamu. Kamu juga, kan?"
Aku hanya mengangguk. Sari tersenyum melihat aku berkaca-kaca. Ah, kamu bisa saja bikin aku lemah begini, Sar. Lagian kok bisa cinta ini tumbuh sesubur ini.
***
"Kok malah bengong, Nak?" Emak mengagetkan lamunanku.
"Aku ingat Sari." Mulutku begitu saja berujar, "Aku paham keinginan Emak. Aku juga paham risiko atas hubungan kami. Tapi soal cinta, aku ingin memperjuangkannya."
Emak menatapku terluka. Matanya mengembun. Wajah teduh yang selama ini memayungi buah hatinya dengan luapan cintanya. Tak tega melihatnya. Aku menunduk. Menatap gelap yang terasa sunyi. Melihat masa yang penuh gelora. (**)
Pandeglang, 14 Juli 2026 23.01

0 Komentar
Menyapa Penulis